Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Islandia Sukses Tanam Pisang di Dekat Kutub Utara, Teknologi Geothermal Jadi Kunci Revolusi Pertanian

Amaliya Syafithri • Selasa, 2 Juni 2026 | 18:33 WIB
Ilustrasi panen buah pisang di Islandia. (Instagram @infarm.id)
Ilustrasi panen buah pisang di Islandia. (Instagram @infarm.id)

RADARTUBAN - Islandia, sebuah negara kepulauan yang secara geografis terletak sangat dekat dengan Lingkar Kutub Utara dan terkenal akan lanskap gletser es serta musim dinginnya yang ekstrem, baru-baru ini membuktikan sebuah terobosan agrikultur yang sangat mengagumkan. 

Meskipun memiliki keterbatasan intensitas cahaya matahari dan suhu udara yang membekukan, negara ini sukses membudidayakan tanaman tropis seperti buah pisang serta aneka jenis sayuran segar. 

Keberhasilan yang dinilai mustahil oleh sistem pertanian konvensional ini diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi rumah kaca (greenhouse) modern yang ditenagai secara penuh oleh energi panas bumi (geothermal).

Baca Juga: Menhan Sjafrie Tugaskan TNI Kelola Pertanian, Swasembada Pangan Dikebut Hingga Tahun 2029

Proyek perkebunan pisang yang ikonik ini dikelola sebagai fasilitas riset dan pendidikan oleh pihak Universitas Pertanian Islandia (Agricultural University of Iceland) yang berlokasi di wilayah Hveragerði. 

Di dalam rumah kaca raksasa tersebut, iklim tropis yang hangat dan lembap direkayasa secara konsisten menggunakan suplai air panas alami yang bersumber dari aktivitas vulkanik bawah tanah Islandia yang melimpah. 

Energi geothermal yang murah dan ramah lingkungan ini mengalirkan suhu panas secara konstan ke seluruh area tanaman sepanjang tahun, sehingga pohon pisang dapat tumbuh subur dan berbuah dengan baik meskipun badai salju sedang melanda di luar bangunan.

Karena keterbatasan paparan sinar matahari alami di wilayah utara bumi, proses pematangan buah pisang di Islandia membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, yaitu sekitar dua tahun, jika dibandingkan dengan daerah khatulistiwa yang hanya memakan waktu beberapa bulan saja. 

Oleh karena itu, hasil panen buah pisang ini tidak diperuntukkan bagi komoditas komersial di pasar umum, melainkan dikonsumsi secara mandiri oleh para staf, mahasiswa, dan tamu universitas. 

Keberadaan perkebunan pisang paling utara di dunia ini menjadi bukti nyata sekaligus simbol kesuksesan Islandia dalam menciptakan sistem ketahanan pangan yang mandiri, inovatif, serta berbasis energi terbarukan yang berkelanjutan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pisang #islandia #pertanian