RADARTUBAN - Sebuah ledakan mengejutkan pabrik Hanwha Aerospace, perusahaan perlindungan dan ruang luar angkasa terkemuka Korea Selatan, pada Senin (1/6) pagi. Peristiwa tragis tersebut merenggut nyawa lima
Pertemuan terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat fasilitas Hanwha Aerospace yang berlokasi di Daejeon, kira-kira 150 kilometer selatan
Seorang juru bicara Markas Pemadam Kebakaran Daejeon mengonfirmasi jumlah korban.
“Lima orang tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka,” kata juru bicara tersebut.
Baca Juga: Kronologi Kebakaran Empat Gudang di Kalideres Jakarta Barat, Ledakan Terdengar Berulang
Diduga Terjadi Saat Pembersihan Propelan Roket CEO Hanwha Aerospace, Son Jae-il, mengadakan konferensi pers untuk memberikan keterangan mengenai kejadian ini.
Ia mengungkapkan bahwa ledakan kemungkinan besar terjadi selama proses pembersihan yang terkait dengan produksi propelan roket.
"Diperkirakan kecelakaan ini terjadi saat proses itu berlangsung," jelas Son Jae-il.
Pabrik Hanwha Aerospace fokus pada penelitian dan pengembangan, termasuk teknologi senjata canggih dan sistem terkait ruang angkasa.
Aktivitas di fasilitas tersebut melibatkan penanganan bahan peledak dan propelan roket yang berpotensi berbahaya jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Pejabat Pemadam Kebakaran menuturkan bahwa kebakaran dipicu oleh sebuah ledakan. Namun, penyebab pasti ledakan tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh otoritas setempat dan pihak perusahaan.
Semua korban tewas ditemukan di lokasi kejadian. Tim investigasi sedang bekerja untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan ledakan, termasuk kemungkinan kesalahan prosedur, kegagalan peralatan, atau faktor manusia.
Insiden ini merupakan pukulan berat bagi kawasan industri dan ruang angkasa Korea Selatan, yang selama ini dikenal dengan standar keselamatan tinggi.
Pemerintah Korea Selatan telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh terhadap kejadian ini dan meminta perusahaan untuk melakukan peninjauan ulang protokol keselamatan di seluruh fasilitas produksi mereka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni