RADARTUBAN - Pasar pangan di kawasan Asia tengah menghadapi tekanan yang sangat berat.
Sepanjang bulan Mei 2026, harga komoditas beras putih yang menjadi makanan pokok miliaran jiwa di wilayah ini mengalami lonjakan tajam hingga mencapai 20 persen.
Kenaikan harga secara masif ini tercatat sebagai lonjakan bulanan terbesar dan menjadi rekor tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir.
Situasi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pengamat ekonomi dan pemerintah terkait stabilitas ketahanan pangan nasional serta potensi inflasi di berbagai negara konsumen.
Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari Bloomberg, patokan utama untuk pasar regional Asia, yaitu harga beras putih Thailand, mengalami kenaikan paling agresif sejak tahun 2008.
Baca Juga: Tak Ada Impor Beras Industri 2026, CIPS sorot akan potensi gangguan pasokan Bagi industri Olahahan
Faktor utama yang mendorong krisis harga ini adalah gangguan produksi pertanian yang disebabkan oleh fenomena cuaca ekstrem yang melanda berbagai negara produsen utama di Asia.
Perubahan iklim global yang tidak menentu dan ancaman gelombang panas ekstrem secara langsung telah merusak produktivitas lahan sawah dan menurunkan proyeksi hasil panen secara signifikan di tingkat regional.
Selain masalah faktor alam, lonjakan harga beras ini diperparah oleh situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Konflik internasional memicu kenaikan biaya energi serta meroketnya harga pupuk kimia di pasar dunia.
Akibatnya, para petani harus menanggung beban biaya operasional yang jauh lebih tinggi demi mempertahankan kelangsungan pertanian mereka.
Para analis memperingatkan bahwa tren kenaikan harga beras ini masih berpotensi besar untuk berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, mengingat pasokan pupuk yang terbatas dan ancaman kekeringan lanjutan yang masih terus membayangi wilayah Asia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni