RADARTUBAN - Harga minyak global mengalami peningkatan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran.
Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran di pasar mengenai kemungkinan gangguan pasokan energi dari wilayah Timur Tengah.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk AS melonjak 2,07 persen, menutup perdagangan di level 90,03 dollar AS (setara Rp 1,61 juta dengan kurs Rp 17.950) per barel.
Sementara itu, minyak Brent berjangka, yang menjadi patokan internasional, meningkat 1,8 persen ditutup pada 93,10 dolar AS (Rp 1,66 juta) per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Turun 3 Persen Usai AS Sebut Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat Signifikan
Lonjakan harga ini terjadi langsung setelah Trump menolak kemungkinan kesepakatan damai dan menegaskan bahwa Washington akan menyerang Iran dengan lebih keras apabila negosiasi gagal.
Pasar yang sempat tenang mendadak kembali tegang di tengah meningkatnya risiko perang skala penuh di Timur Tengah.
Dalam perdagangan sore hari, kedua kontrak bahkan melonjak hampir 3 dolar AS setelah Trump kembali menegaskan bahwa Iran berpotensi menghadapi serangan lanjutan.
Ancaman ini muncul menyusul baku tembak yang terjadi semalam, di mana sebuah helikopter AS ditembak jatuh oleh Iran.
Trump sebelumnya telah menyatakan bahwa AS akan serangan Iran "dengan sangat keras" dalam beberapa pekan ke depan dan "mengembalikan mereka ke Zaman Batu, tempat yang pantas bagi mereka".
"Kita telah menyerang mereka dengan keras kemarin, dan kita akan menyerang mereka dengan keras lagi hari ini. Kita akan menyerang mereka dan menyerang mereka dengan sangat keras," Kata Trump.
Pernyataan bernada kasar ini langsung memicu kekhawatiran pasar global dan lonjakan harga energi yang signifikan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni