RADARTUBAN - Harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 150 dolar AS per barel jika konflik di Selat Hormuz kembali meningkat setelah periode gencatan senjata yang tengah menghadapi tantangan serius.
Perusahaan intelijen energi Rystad Energy diperingatkan bahwa harga minyak dunia dapat meroket ke level tersebut jika ketegangan antara kedua negara terkait meningkat.
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia untuk perdagangan minyak global. Ketika selat ini terancam atau ditutup, pasokan minyak dunia langsung terguncang dan mendorong harga naik.
Baca Juga: Trump Ancam Gempur Iran Lagi dengan Sangat Keras, Harga Minyak Dunia Melambung Hingga 93 Dollar AS
"Pada tahap ini, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah eskalasi saat ini menandai dimulainya kembali permusuhan secara penuh atau hanya episode berbahaya namun masih dapat dikendalikan," ujar senior vice presidet
Rystad Energy mengatakan bahwa, perkembangan terbaru masih menunjukkan situasi yang sangat dinamis sehingga terlalu dini untuk memastikan apakah ketegangan saat ini akan berkembang menjadi konflik yang luas atau dapat dikendalikan.
Kontak berjangka minyak mentah Brent menutup perdagangan naik 0,2% menjadi 112,78 per barel, sementara minyak mentah AS melonjak 3,3% menjadi 102,88 dollar As.
Bruce Kasman, kepala ekonomi global di JPMorgan, mengatakan bahwa skenario di mana Selat Hormuz tetap tertutup selama satu bulan tambahan akan konsisten dengan kenaikan harga minyak hingga 150 per barel.
Konsultan energi Wood Mackenzie memecahkan konflik yang sedang berlangsung memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk hingga sekitar 15 juta barel per hari.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak mentah melonjak hingga 150 per barel.
Serangan militer Amerika Serikat ke sasaran Iran pada Juni 2026 memicu munculnya harga minyak ancaman global akibat gangguan Selat Hormuz yang semakin nyata. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni