RADARTUBAN — Saat industri pariwisata kawasan Asia Tenggara sedang membludak pasca pandemi, Filipina justru merosot dalam jumlah secara signifikan.
Berdasarkan data UN Tourism, sepanjang tahun 2024 kawasan ASEAN sukses menjaring sekitar 122 juta wisatawan mancanegara, meroket sebesar 24,5 persen dari tahun sebelumnya.
Penurunan wisatawan itu dibahas dalam video dari Koi yang diunggah melalui akunnya Sepulang Sekolah.
Koi menjelaskan bahwa Thailand dan Malaysia memimpin panggung dengan raihan masing-masing 35,5 juta dan 25 juta pergerakan turis. Membuat Filipina menduduki skor paling rendah dengan menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara.
Baca Juga: Ngopi Sambil Rendam Kaki, Kafe Aliran Sungai di Air Terjun Banyulangse Tuban Jadi Buruan Wisatawan
Ada beberapa faktor yang menyebabkan merosotnya kunjungan turis ke Filipina, tidak seperti negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Malaysia yang mudah ditempuh dengan roda empat, Filipina yang secara geografis berada di tengah samudera tentunya tidak diuntungkan secara lokasi. Turis harus siap merogoh gocek untuk tiket pesawat, dan tiket kapal saat ingin berganti tempat wisata.
''Yang lebih mengenaskannya lagi Filipina kini kehilangan turis-turis Asia Timur yang sudah jadi tulang punggung utama dalam penyumbang utama wisatawan mereka,'' kata dia.
Seperti kunjungan turis Korea Selatan yang merosot 21 persen per tahun 2025 karena banyaknya kasus penculikan, begal, dan pemerasan. Dikarenakan kasus yang sama Jepang juga menghimbau warga negaranya untuk tidak berkunjung ke Filipina dalam waktu dekat.
Tak hanya itu, geopolitik di Laut Cina Selatan membuat wisatawan asal Cina juga serempak memboikot kunjungan ke wilayah-wilayah ASEAN yang terdampak.
Diperparah lagi dengan Manila yang memperketat syarat visa pada tahun 2024 untuk mengurangi masuknya dokumen palsu. Meski pelonggaran sudah dijalankan semenjak Januari 2026 warga Cina masih enggan untuk berkunjungan ke Filipina.
Selain masalah eksternal, masalah internal juga menjadi penyebab enggannya wisatawan untuk kembali berkunjung ke Filipina. Ruwetnya transportasi ke tempat-tempat wisata premium seperti Boracay atau Palawan membuat para pelancong harus menunggu selama berjam-jam, menerobos kemacetan, belum lagi cuaca ekstrim yang sulit ditebak.
Pesawat domestik sering dibatalkan karena alasan cuaca ekstrim secara mendadak.
"Biaya yang harus dirogoh untuk perjalanan panjang tersebut juga tak sedikit, membuat para pelancong kapok untuk berkunjung lagi ke Filipina," tutur dia.
Namun luar biasanya pasar pariwisata Filipina masih dapat diselamatkan karena tingginya minat warga dalam negeri dalam mengeksplorasi wisata mereka. Merespons situasi ini, Departemen Pariwisata Filipina di bawah kepemimpinan Christina Frasco mulai mengubah haluan strategi.
Tidak lagi terpaku dengan kuantitas, pemerintah Filipina sekarang berfokus pada pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan (quality over quantity).
Terobosan ini sukses mendatangkan pendapatan pariwisata yang menembus angka $13,2 miliar USD pada 2024 rekor tertinggi di negara Filipina. Fakta ini membuktikan bahwa hanya dengan banyaknya turis bisa menjadi tolok ukur kesuksesan pariwisata secara global. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Sepulang Sekolah