Di toko-toko tersebut, konsumen rela mengeluarkan hingga 19 dolar AS atau sekitar Rp 300 ribu hanya untuk membeli satu buah stroberi.
Bahkan, segelas smoothie dibanderol sekitar 27 dolar AS, setara lebih dari Rp 400 ribu.
Harga fantastis itu memunculkan pertanyaan: mengapa makanan yang sejatinya merupakan kebutuhan pokok bisa berubah menjadi barang mewah?
Konten kreator David Achu menilai fenomena tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kualitas produk. Menurutnya, tren supermarket premium juga dipengaruhi gaya hidup, budaya wellness, hingga kebutuhan sebagian masyarakat untuk menunjukkan status sosial.
Di kalangan tertentu, berbelanja di supermarket eksklusif telah menjadi bagian dari identitas.
Baca Juga: Jangan Simpan 10 Bahan Makanan Ini di Kulkas, Tekstur Rusak dan Rasa Bisa Hilang Tanpa Disadari
Membawa tas belanja ramah lingkungan dengan logo toko premium atau mengunggah minuman sehat dari gerai terkenal di media sosial dianggap mampu meningkatkan citra diri.
Fenomena tersebut sejalan dengan konsep conspicuous consumption atau konsumsi mencolok, yakni perilaku membeli barang bukan semata karena manfaatnya, tetapi karena nilai prestise yang melekat pada produk tersebut.
Dalam kondisi seperti itu, makanan tidak lagi hanya dipandang sebagai kebutuhan untuk memenuhi nutrisi, melainkan juga menjadi simbol gaya hidup dan kelas sosial.
Di sisi lain, tren supermarket mewah juga memunculkan perdebatan mengenai ketimpangan ekonomi. Ketika sebagian orang mampu menghabiskan ribuan dolar untuk belanja bahan makanan setiap pekan, masih banyak keluarga lain yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai akses terhadap makanan sehat yang seharusnya dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kelompok berpenghasilan tinggi.
Selain itu, budaya diet ekstrem dan obsesi terhadap makanan premium dinilai berpotensi mengubah cara pandang masyarakat terhadap makanan itu sendiri. Aktivitas makan yang semestinya menjadi kebutuhan dasar sekaligus sarana kebersamaan perlahan bergeser menjadi bagian dari pencitraan sosial.
Karena itu, sejumlah pengamat menilai pola hidup sehat tidak selalu identik dengan membeli makanan berharga mahal.
Memasak sendiri di rumah, memperbanyak konsumsi makanan segar, mengurangi makanan ultra-proses, serta menghindari kebiasaan menjadikan makanan sebagai simbol status sosial dinilai menjadi langkah yang lebih realistis untuk menjaga kesehatan sekaligus mengelola pengeluaran.
Fenomena supermarket premium di Amerika Serikat menjadi gambaran bahwa di era modern, nilai sebuah makanan tidak lagi hanya ditentukan oleh kandungan gizinya, tetapi juga oleh persepsi, tren, dan gengsi yang melekat pada produk tersebut. (*)