RADARTUBAN - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth menyampaikan di hadapan komite alokasi anggaran senat bahwa biaya operasional militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran telah melonjak hingga 37,5 Miliar dolar AS atau sekitar Rp 671,2 Triliun.
Angka tersebut melonjak nyaris 8 Miliar dolar AS dibandingkan bulan mei lalu.
Hegseth mendesak para anggota parlemen agar segera menyetujui dana darurat tambahan sebesar 87 miliar dolar AS sekitar Rp 1.390 Triliun.
Dari total pengajuan itu, 67 Miliar dolar AS dialokasikan khusus untuk operasi militer di Timur Tengah.
Baca Juga: Kejutkan Publik, Donald Trump Dukung Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB Berikutnya!
Sesi dengar Pendapat di Capitol Hill berlangsung memanas akibat aksi unjuk rasa kelompok anti perang, peserta diwarnai perdebatan sengit antara menhan Hegseth e dan para senator Partai Demokrat.
"Tanpa dana ini, kami menghadapi kekurangan kritis yang mengancam kemampuan kami untuk sekedar membayar anggota layanan kami, dengan cepat mengisi kembali peralatan dan amunisi, serta mempertahankan operasi vital tanpa gangguan," Ungkap Hegseth.
Pengajuan anggaran tambahan tersebut mendapat penolakan keras dari Partai Demokrat. Anggota Senior Komite, Patty Murray, menegaskan bahwa permintaan itu tidak masuk akal.
Disaat bersamaan, Senator kristen Gilibrand mengkritik tajam pemerintahan Donald Trump yang dinilai terus meminta dana tak terbatas untuk keperluan militer di tengah kesulitan ekonomi warga sipil AS.
Suasana persidangan kian memanas setelah senator Gery Peters secara terbuka menilai Hegseth gagal karena telah membawa AS masuk ke dalam konflik "perang abadi" baru di Timur Tengah.
Menjawab tuduhan tersebut, Hegseth melancarkan serangan balik dengan menuduh Peters mengidap "Trump derangement Syndrome" .
Selain penolakan dari Partai Demokrat, sejumlah politisi partai Republik turut mensyaratkan pemotongan anggaran di sektor lain sebagai pengimbang pengajuan dana militer tersebut.
Keputusan perkara ini berpotensi tertunda mengingat kongres memasuki masa reses mulai Kamis (23/7) dan baru aktif kembali pada September mendatang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni