Korea Selatan Hadapi Krisis Demografi, Mengapa Generasi Mudanya Enggan Menikah dan Punya Anak?

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 16:53 WIB
Ilustrasi masyarakat Korea Selatan. (BBC)
Ilustrasi masyarakat Korea Selatan. (BBC)

RADARTUBAN- Di balik citra Korea Selatan sebagai negara maju dengan industri K-Pop, drama, dan teknologi yang mendunia, negeri tersebut tengah menghadapi persoalan serius yang mengancam masa depannya. Bukan soal ekonomi atau keamanan, melainkan krisis demografi akibat terus merosotnya angka kelahiran.

Bahkan, sejumlah proyeksi menyebut populasi Korea Selatan dapat menyusut drastis dalam beberapa dekade mendatang apabila tren tersebut tidak berubah.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa semakin banyak warga Korea Selatan memilih tidak menikah atau tidak memiliki anak?

Salah satu gambaran mengenai kondisi tersebut diungkap dalam kanal YouTube Papiens, yang mewawancarai warga Korea Selatan mengenai perubahan pola pikir generasi muda.

Baca Juga: Travel Minta FYA yang Hilang di Korea Selatan Pulang, Sarjana Backpacker Terancam Denda Rp 125 Juta

Bertahan Hidup Saja Sudah Sulit

Bagi banyak pekerja muda di Korea Selatan, membangun keluarga bukan lagi menjadi prioritas utama.

Tingginya biaya hidup, harga hunian yang terus meningkat, serta tekanan pekerjaan membuat mereka lebih fokus memenuhi kebutuhan pribadi.

Seorang narasumber menggambarkan kondisi itu dengan kalimat sederhana.

"Bahkan mengurus diri sendiri saja sudah sulit, bagaimana mungkin mengurus orang lain?"

Jam kerja yang panjang membuat banyak pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Ketika pulang, energi yang tersisa hanya cukup untuk beristirahat sehingga hubungan asmara maupun rencana membangun keluarga sering kali tertunda.

Perbedaan Cara Pandang Antar Generasi

Perubahan pola pikir juga dipengaruhi pengalaman hidup yang berbeda antara generasi tua dan muda.

Dalam wawancara tersebut, seorang pria berusia 81 tahun mengaku membesarkan anak pada masanya bukan sesuatu yang berat. Generasi pascaperang terbiasa hidup dengan prinsip bekerja keras dan berkorban demi masa depan keluarga.

Namun, generasi sekarang memiliki pandangan berbeda. Mereka tumbuh dengan melihat orang tua menghabiskan sebagian besar hidup untuk bekerja tanpa banyak menikmati hasilnya.

Pengalaman itu membuat banyak anak muda mempertanyakan apakah hidup harus selalu dipenuhi pengorbanan.

Karena itu, sebagian memilih mengejar kualitas hidup, menikmati hobi, bepergian, atau mengembangkan karier dibanding menikah dalam usia muda.

Pendidikan Mahal Jadi Beban Tambahan

Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah sistem pendidikan yang sangat kompetitif.

Di kawasan Daechi-dong, Seoul, yang dikenal sebagai pusat lembaga bimbingan belajar, anak-anak terbiasa mengikuti kelas tambahan hingga larut malam demi mengejar peluang masuk universitas bergengsi.

Persaingan tersebut membuat biaya pendidikan menjadi sangat tinggi.

Banyak pasangan muda merasa belum siap memiliki anak karena khawatir tidak mampu memenuhi standar pendidikan yang dianggap ideal.

Tekanan sosial juga memperbesar beban tersebut. Orang tua di Korea Selatan kerap merasa harus memberikan pendidikan terbaik agar anak dapat bersaing di masa depan.

Akibatnya, memiliki anak tidak lagi dipandang semata sebagai keputusan emosional, tetapi juga sebagai komitmen finansial yang besar.

Pilihan yang Dinilai Rasional

Dalam kondisi ekonomi dan sosial seperti saat ini, keputusan untuk menunda pernikahan atau tidak memiliki anak dinilai sebagian generasi muda sebagai langkah yang masuk akal.

Mereka lebih memilih menggunakan penghasilan untuk meningkatkan kualitas hidup sendiri daripada menanggung tanggung jawab yang dianggap semakin berat.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan bukan hanya dipicu persoalan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi perubahan budaya, pola pikir, hingga sistem sosial yang membentuk cara generasi muda memandang keluarga.

Di tengah tekanan pekerjaan, mahalnya biaya hidup, dan tingginya ekspektasi masyarakat, banyak warga Korea Selatan kini berusaha mendefinisikan ulang arti kebahagiaan dan kesuksesan. Bagi sebagian dari mereka, kehidupan yang bermakna tidak selalu identik dengan pernikahan ataupun memiliki anak. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
menikah korea selatan masa depan angka kelahiran