Perdebatan Sengit Karakter Film Obsession: Tragedi Permen 'One Wish Willow', Siapa yang Patut Disalahkan?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 17:03 WIB
Permen One Wish willow dari film thriller psikologis "Obsession" sebagai perantara magis yang meningkatkan konflik dalam film Obsession. (Pinterest)
Permen One Wish willow dari film thriller psikologis "Obsession" sebagai perantara magis yang meningkatkan konflik dalam film Obsession. (Pinterest)

RADARTUBAN - Film Obsession sukses menarik perhatian pencinta genre psychological thriller. Menyajikan alur cerita yang tak tertebak dan menegangkan, karya ini sukses mengguncang kestabilan emosi penonton sekaligus melahirkan perpecahan pandangan yang tajam di berbagai platform media sosial.

Para penonton seakan ditarik dan dipaksa untuk memilih kubu dalam dilema moral rumit terkait dinamika dua karakter utamanya: Bear dan Niki. Di jejaring sosial seperti X dan TikTok, satu pertanyaan terus bermunculan: siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas petaka hubungan beracun dalam cerita ini?

Untuk memahami akar dari perdebatan ini, kita harus menelaah kembali premis awal cerita yang memutarbalikkan ekspektasi. Bear awalnya diperkenalkan sebagai sosok pria pemalu yang terjebak dalam dinamika pertemanan biasa.

Baca Juga: Disney Dituding Bikin Film untuk TikTok? Kontroversi Trailer Hex Picu Perdebatan Soal Format Vertikal

Dia diam-diam menyimpan perasaan cinta yang mendalam terhadap Niki, temannya sendiri, namun ia tak pernah memiliki cukup keberanian untuk mengutarakannya secara langsung.

Konflik mulai meningkat ketika Bear tanpa sengaja mampir ke toko barang unik dan membeli permen misterius bernama 'One Wish Willow'. Konon, permen tersebut konon mampu mengabulkan satu permintaan mutlak. Terdorong oleh keputusasaan emosional, Bear merapalkan permohonan agar Niki membalas perasaannya.

Alih-alih mendapat kisah cinta yang indah seperti yang ia bayangkan, permintaan Bear justru membuka kotak pandora menuju mimpi buruk psikologis. Permen 'One Wish Willow' memang bekerja, namun dengan cara yang sangat ekstrem. Sikap Niki berubah secara drastis dalam semalam.

Niki menjelma menjadi sosok yang memiliki obsesi berlebihan dan tak terkendali terhadap Bear. Niki mulai menunjukkan manifestasi perilaku posesif yang mengarah pada manipulasi psikologis, teror emosional, dan tindakan irasional yang mengancam keselamatan mereka berdua.

Dari titik balik inilah perdebatan memanas. Satu kubu, yang mayoritas berempati pada kondisi Niki, melontarkan kecaman keras terhadap tindakan Bear. Bagi kelompok #TeamNiki, Bear adalah akar segala bencana karena ia secara sepihak melanggar otonomi dan kebebasan emosional Niki.

Menggunakan perantara magis untuk mengubah perasaan seseorang dianggap sebagai bentuk pemaksaan tingkat tinggi. Niki, dalam interpretasi kubu ini, murni seorang korban. Obsesi mengerikan yang ditunjukkan Niki bukanlah wujud asli kepribadiannya, melainkan efek sihir yang dipaksakan kepadanya tanpa persetujuan.

Di sudut pandang yang berseberangan, dukungan terhadap Bear (#TeamBear) juga tidak kalah vokal. Kubu ini berargumen kuat bahwa Bear tidak sepatutnya memikul seluruh kesalahan karena ia tidak menyadari konsekuensi fatal dari permen 'One Wish Willow'.

Bear tidak pernah mengharapkan Niki berubah menjadi ancaman mematikan; dia hanyalah laki-laki naif yang mendambakan cinta. Penonton di kubu ini menyoroti bahwa Bear justru beralih status menjadi korban dari rentetan teror psikologis yang dilakukan oleh Niki. Kepolosan Bear akan efek samping dinilai sebagai bukti ia tidak memiliki niat jahat.

Perdebatan mengenai batas antara niat dan konsekuensi ini turut menarik perhatian para pengamat film. Kreator konten Eno Bening mengupas tuntas lapisan psikologis yang dibangun oleh sutradara Obsession.

"Di sini gua enggak peduli entah apapun magicnya kenapa tiba-tiba bisa terjadi. Gua rasa aneh kalau gua nanyain itu. It's not about it. It's about the obsession, dan director dan scriptwriternya orang yang sama. By the way, itu berhasil ngebuat film ini kayak gua bingung mau mempertanyakan kebingungan apa." ujar Eno, dikutip dari kanal YouTube Eno Bening.

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Suara Film Terasa Semakin Tidak Jelas dan Memaksa Kita Menggunakan Subtitle

Pada akhirnya, perdebatan menyoal siapa pelaku utama dan korban sejati apakah Bear dengan keputusan impulsifnya menggunakan permen 'One Wish Willow', atau Niki dengan manifestasi obsesi ekstremnya mungkin tidak akan pernah menghasilkan satu kesimpulan tunggal. Film Obsession dirancang sebagai eksperimen psikologis yang menolak memberikan jawaban instan.

Bear dituntut menanggung beban moral akibat tindakan sembrononya, sementara Niki merupakan korban campur tangan mistis yang mengubah dirinya menjadi ancaman.

Keberhasilan Obsession terletak pada ambiguitas moral tersebut, sukses menjadi cermin reflektif bagaimana hasrat manusia yang terkesan sepele dapat melahirkan reaksi berantai yang menghancurkan tatanan psikologis hubungan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Obsession tiktok Ekspektasi