Dari Krisis Moneter Jadi Bisnis Triliunan Rupiah, Raymond Chin Bongkar Rahasia Strategi Ekonomi K-Pop

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:25 WIB
Bagaimana K-Pop bangkit dari krisis 1997 hingga hasilkan triliunan Won? Simak analisis bisnis industri hiburan Korea Selatan. (Pinterest)
Bagaimana K-Pop bangkit dari krisis 1997 hingga hasilkan triliunan Won? Simak analisis bisnis industri hiburan Korea Selatan. (Pinterest)

RADARTUBAN - Gelombang musik K-Pop saat ini bukan lagi sebatas urusan lagu atau tarian keren di atas panggung.

Di balik gemerlap lampu panggung dan riuh tepuk tangan penonton, industri hiburan Korea Selatan ini menyimpan strategi bisnis super matang yang berhasil menempatkan mereka sebagai salah satu komoditas ekspor terbesar bagi negerinya.

Dikutip dari kanal YouTube Raymond Chin, sejarah panjang dominasi K-Pop sebenarnya berawal dari medio 1992. Saat itu, panggung televisi Korea dihebohkan oleh kemunculan grup Seo Taiji and Boys lewat lagu "I Know".

Baca Juga: Film Animasi KPop Demon Hunters Masuk Koleksi Kriteria Eksklusif

Mereka mendobrak musik konvensional dengan memadukan unsur hip-hop, dance, hingga rock. Penampilan segar tersebut sukses membuat publik Korea terperanjat dan membuka lembaran baru industri musik lokal.

Krisis finansial yang mengguncang Asia pada 1997 menjadi titik balik berikutnya. Pemerintah Korea Selatan sadar betul bahwa perekonomian negara tidak bisa terus-menerus bergantung pada industri manufaktur.

Strategi pun bergeser ke arah soft power dengan menyuntikkan dana besar-besaran ke sektor budaya (pop culture). Kebijakan berani ini menjadi fondasi lahirnya The Korean Wave atau Hallyu, sebuah fenomena budaya yang menyebarkan musik K-Pop, K-Drama, film, mode, hingga kuliner ke seluruh penjuru dunia.

Guna menopang gelombang tersebut, berdiri agensi-agensi raksasa seperti SM Entertainment, JYP Entertainment, YG Entertainment, sampai HYBE. Perusahaan-perusahaan ini menerapkan sistem pencarian bakat yang sangat ketat.

Calon idola ditempa lewat proses training sejak usia yang sangat muda, bahkan ada yang dimulai dari umur 10 tahun. Anak-anak ini digembleng bertahun-tahun hingga kemampuan vokal dan menarinya matang sebelum dilepas ke publik.

Sistem pencetak idola ini terbukti ampuh. Memasuki era 2010-an, fenomena Gangnam Style milik PSY meledak di internet hingga meraup miliaran tayangan di YouTube. Sejak saat itu, kran pendapatan agensi terbuka lebar.

SM Entertainment misalnya, sukses mengantongi pendapatan 231 miliar won. Angka tersebut terus meroket di tahun-tahun berikutnya. Pada 2023, BLACKPINK mencatatkan pendapatan hingga 363 miliar won setelah merampungkan tur dunia yang disaksikan lebih dari 2,1 juta penonton di 65 negara. Sementara itu, HYBE membukukan rekor pendapatan mencapai 1,68 triliun won pada 2022.

Ekspansi bisnis tak berhenti di dalam negeri. Agensi seperti JYP mulai melebarkan sayap dengan membuka cabang di Tiongkok, Jepang, hingga Amerika Serikat. Langkah ini menegaskan posisi K-Pop sebagai pemain utama di pasar musik global.

Lantas, bagaimana cara mereka mengunci loyalitas penggemar hingga bisa diubah menjadi sumber uang?

Kuncinya ada pada monetisasi basis penggemar (fandom). Fans tidak lagi dipandang sebagai penikmat musik biasa, melainkan aset utama yang paling berpotensi menghasilkan uang.

Berbagai saluran penjualan dibuka, mulai dari tiket konser, pernak-pernik (merchandise), keanggotaan fan club premium, hingga konten digital eksklusif. Platform komunitas Weverse buatan HYBE menjadi salah satu contoh sukses, di mana aplikasi ini mampu menyedot pendapatan dari fans hingga mencapai 800 miliar won.

Baca Juga: EJAE, Audrey Nuna, dan Rei Ami Bikin Geger The Tonight Show Lewat Lagu Golden dari KPop Demon Hunters

Bukti kedatangan jutaan massa ini terlihat jelas pada 2022. SM Entertainment mencatatkan total penonton konser mencapai 5,1 juta orang yang tersebar di 161 negara. Pada tahun yang sama, penjualan album fisik K-Pop secara global menembus angka fantastis yakni 70 juta kopi. Angka penjualan album fisik ini bahkan sanggup melampaui raihan musisi top dunia sekelas Taylor Swift.

Perjalanan K-Pop dari ranah lokal hingga menguasai pasar dunia membuktikan bahwa industri kreatif bisa menjadi tulang punggung ekonomi jika dikelola secara profesional.

Sinergi antara dukungan pemerintah, sistem pelatihan idola yang terstruktur, setara kecerdasan mengelola ikatan emosional fans berhasil menciptakan ekosistem bisnis yang sangat solid dan tahan krisis.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
k-pop korea selatan Komoditas raymond chin