RADARTUBAN – Di balik kemajuan Jepang, mengapa banyak remaja memilih kabur dari rumah dan hidup di jalanan?
Fenomena itu dikenal dengan sebutan Toyoko Kids, yaitu komunitas anak muda yang menjadikan kawasan sekitar Gedung Shinjuku Toho di Distrik Kabukicho, Tokyo, sebagai tempat berkumpul sekaligus bertahan hidup.
Realitas tersebut diulas oleh YouTuber Aurel Val dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya.
Nama Toyoko berasal dari gabungan kata To, yang merujuk pada Gedung Shinjuku Toho dengan ikon kepala Godzilla raksasa, dan Yoko yang berarti "di samping".
Kawasan ini berada di Kabukicho, distrik hiburan malam yang selalu ramai dan dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan malam terbesar di Jepang.
Baca Juga: Jepang Diguncang Gempa Magnitudo 7,5, KBRI Tokyo Imbau 15 Ribu WNI Waspada Tsunami
Meski dikenal dengan sebutan Toyoko Kids, sebagian dari mereka tidak menyukai julukan tersebut dan lebih memilih disebut Kaiwaimin, yang berarti anggota atau warga dalam sebuah komunitas.
Sebagian besar Toyoko Kids bukanlah remaja yang sengaja memilih hidup di jalanan. Banyak dari mereka meninggalkan rumah karena mengalami persoalan keluarga, seperti kekerasan dalam rumah tangga, konflik dengan orang tua, tekanan ekonomi, hingga perundungan di sekolah.
Bagi mereka, kawasan Toyoko menjadi tempat untuk mencari rasa aman sekaligus bertemu orang-orang dengan pengalaman serupa.
Tekanan sosial di Jepang turut memperburuk keadaan. Sejak kecil, banyak anak dituntut untuk mandiri, bekerja keras, dan meraih keberhasilan.
Ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, sebagian memilih pergi dari rumah dan mencari lingkungan yang dianggap lebih menerima keberadaan mereka.
Komunitas Toyoko Kids juga memiliki ciri khas dalam berpenampilan. Remaja perempuan banyak mengusung gaya Jirai-kei atau "ranjau darat", yaitu perpaduan busana bergaya dark kawaii, gaun berenda, hoodie oversized, serta riasan wajah yang mencolok. Julukan "ranjau darat" menggambarkan kondisi emosional mereka yang tampak ceria dari luar, tetapi menyimpan luka batin.
Sementara itu, remaja laki-laki lebih sering mengenakan pakaian bernuansa gelap dengan gaya dark emo.
Di dalam komunitas Toyoko Kids juga terdapat hierarki sosial. Popularitas di media sosial seperti TikTok, Instagram, maupun X menjadi penentu status seseorang. Mereka yang memiliki banyak pengikut kerap dijuluki sebagai "Raja", "Ratu", bahkan "Dewa" oleh anggota komunitas lainnya.
Di balik kebersamaan itu, kehidupan Toyoko Kids tidaklah mudah. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian remaja terpaksa melakukan berbagai pekerjaan berisiko untuk bertahan hidup.
Bahkan, sejumlah remaja putri di bawah umur banyak terjerat praktik kencan berbayar (enjo kosai) hingga prostitusi terselubung.
Kondisi tersebut diperparah oleh masalah kesehatan mental, penyalahgunaan obat-obatan, serta tingginya angka depresi hingga kasus bunuh diri marak terjadi .
Aurel menilai fenomena Toyoko Kids menjadi gambaran bahwa kemajuan suatu negara tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan sosial masyarakatnya.
"Negara Jepang memang sangat bagus kalau dilihat dari kacamata orang luar atau wisatawan. Tapi kalau kalian masyarakat Jepang yang sehari-hari hidup di situ, penggambarannya mungkin enggak seindah yang ada di film-film atau anime," ujar Aurel.
Ia juga menyebut Toyoko Kids sebagai peringatan bagi masyarakat Jepang agar lebih memperhatikan kondisi generasi mudanya.
"Fenomena Toyoko Kids seharusnya udah jadi semacam alarm buat masyarakat Jepang yang ngasih tahu kalau ada yang salah dari sistem hubungan sosial mereka."
Fenomena Toyoko Kids menunjukkan bahwa di balik citra Jepang sebagai negara maju, masih ada persoalan sosial yang dihadapi sebagian generasi mudanya. Kisah mereka menjadi salah satu potret sisi lain kehidupan di Negeri Sakura yang jarang terlihat oleh wisatawan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni