Mengintip Kehidupan di Coffin Homes, Hunian Ekstrem yang Jadi Simbol Ketimpangan Hong Kong

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 14:12 WIB
Gambar tempat tinggal di Hong Kong untuk orang kelas bawah yang sangat sempit dan kecil. (pinterest.com)
Gambar tempat tinggal di Hong Kong untuk orang kelas bawah yang sangat sempit dan kecil. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Hong Kong selama ini dikenal sebagai salah satu pusat keuangan terkaya di dunia dengan deretan gedung pencakar langit yang megah.

Namun, di balik gemerlap ekonomi tersebut, tersimpan realita sosial yang amat memprihatinkan.

Seperti dilansir dari kanal YouTube Film Dokumenter Ruhi Çenet, sekitar 220.000 warga berpenghasilan rendah terpaksa memadatkan hidup mereka di dalam hunian mikro ekstrem yang dikenal sebagai coffin homes atau rumah peti mati.

Fenomena ini tercipta akibat melambungnya harga properti yang tak terjangkau oleh masyarakat kelas bawah.

Sebuah bangunan apartemen tua seluas 75 m² biasa disekat-sekat menjadi 20 hingga 30 unit bilik kecil. Luas satu unitnya rata-rata hanya 1,5m² untuk ukuran yang bahkan tidak lebih lebar dari bahu penghuninya dan mustahil untuk berdiri tegak maupun merentangkan tangan secara bebas.

Baca Juga: Olahan Beras Gluten Free Sahate Lolos Kurasi Ekspor ke Denmark dan Hong Kong Berkat Pendampingan LinkUMKM BRI

Dalam ruang super sempit tanpa jendela dan sinar matahari tersebut, para penghuni terpaksa menyatukan area tidur, ruang tamu, hingga dapur dalam satu titik. 

Buruknya sirkulasi udara dan sanitasi juga memicu maraknya hama yang mengganggu kesehatan fisik maupun mental warga.

"Tinggal di sini sangat sulit, banyak sekali kutu busuk. Mereka menghisap darah dan membuat kami menderita insomnia," tutur Nyonya Li, seorang warga yang telah bertahan selama empat tahun di hunian tersebut.

Bagi pekerja paruh waktu seperti dirinya, pilihan tempat tinggal sangat terbatas karena penghasilan bulanan yang hanya berkisar 320 hingga 680 Dolar AS.

Kondisi terisolasi di dalam bilik-bilik sempit ini juga membawa cerita tragis, khususnya bagi para lansia yang tinggal sebatang kara.

Koko, seorang penghuni yang telah menetap selama sepuluh tahun, membagikan pengalamannya menyaksikan pahitnya kesendirian di tempat tersebut.

"Saya pernah melihat tiga orang tetangga meninggal di kamarnya sendiri. Karena pintu selalu tertutup rapat, tidak ada yang tahu saat mereka berpulang. Kami baru menyadarinya dan menghubungi polisi ketika bau menyengat mulai tercium di koridor," ungkapnya.

Akar masalah dari krisis kemanusiaan ini adalah kesenjangan ekonomi yang sangat dalam. Di Hong Kong, sekitar 75 orang terkaya menguasai porsi besar kekayaan negara, sementara warga golongan bawah hampir tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak.

Harga rumah paling murah di pasaran bisa menembus lebih dari 1 juta Dolar AS, sementara biaya sewa apartemen sekat kecil mencapai 4.000 Dolar Hong Kong per bulan.

Baca Juga: Debut Merdeka Gold di Bursa Hong Kong Kurang Bergairah, Saham HDR Sempat Anjlok Hampir 10 Persen

Kondisi ini memaksa para lansia yang telah memasuki masa pensiun untuk tetap bekerja keras, seperti mengumpulkan kardus bekas di jalanan demi membayar sewa bulanan.

 Coffin homes menjadi bukti nyata bagaimana pesatnya pertumbuhan ekonomi dapat mengabaikan hak-hak dasar manusia atas tempat tinggal yang memanusiakan penghuninya.

Fenomena Coffin Homes di Hong Kong menjadi potret ketimpangan sosial dan krisis hunian di tengah salah satu pusat ekonomi terkaya di dunia.

Keterbatasan lahan, properti yang mahal, dan minimnya akses masyarakat kelas bawah memaksa ratusan ribu orang untuk tinggal di apartemen yang sangat kecil untuk hidup dengan ruangan sempit dan akses sirkulasi udara yang minim. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
coffin homes kesenjangan sosial krisis hunian hong kong