Shahrol Shiro Puji Industri Komedi Indonesia, Sebut Lebih Maju 10 Tahun Dibanding Malaysia

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 17:33 WIB
Komedian asal Malaysia, Shahrol Shiro, saat menjelaskan komedi Indonesia. (Tnagkapan layar youtube)
Komedian asal Malaysia, Shahrol Shiro, saat menjelaskan komedi Indonesia. (Tnagkapan layar youtube)

RADARTUBAN — Pelawak ternama asal Malaysia, Shahrol Shiro, menyampaikan pandangan terbuka mengenai perkembangan industri media dan komedi di Indonesia.

Ia menilai lanskap hiburan komedi di Indonesia saat ini telah berkembang sangat pesat, bahkan sepuluh tahun lebih maju dibandingkan industri hiburan di negaranya.

Pernyataan tersebut disampaikan Shahrol saat menjadi bintang tamu dalam sebuah podcast yang kemudian dibahas oleh kanal YouTube INformasi.

Ia menyoroti bagaimana tren komedi di Indonesia selalu berhasil mendahului perkembangan di Malaysia. Salah satu contohnya adalah penggunaan gaya komedi pick-up line atau rayuan jenaka yang telah populer di Indonesia sejak era program televisi Opera Van Java (OVJ) sekitar tahun 2007–2008.

Baca Juga: Stand Up di Gedung KPK, Mukmin Sindir Dugaan Korupsi MBG hingga Nasib Guru Honorer

Sementara, tren komedi serupa baru diadopsi dan ramai di Malaysia bertahun-tahun setelahnya.

"Tapi media yang kita buat hari ni 10 tahun ke belakang dengan media Indonesia. Zaman tu dah ada dekat Indonesia dah, zaman sekarang baru kita nampak kat sini, dan kita dah ketinggalan jauh dekat belakang Indonesia," ungkap Shahrol.

Kekagumannya  semakin bertambah setelah beberapa kali melakukan kunjungan ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan para komedian dan komika papan atas Indonesia, seperti Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono.

Ia melihat sendiri betapa bergairahnya industri komedi tunggal (stand-up comedy) di Tanah Air. Ia juga menyinggung salah satu pertunjukan komedi berskala besar di Indonesia yang berhasil menyerap puluhan ribu penonton dalam satu acara.

"Bila sampai yang terbesar show kita orang pergi tu 10,000 penonton. Beb, gila! Industri komedi sana tengah rancak, tengah peak," tuturnya.

Shahrol juga mengapresiasi keberanian para komika Indonesia dalam mengolah keresahan hidup serta pengalaman traumatis menjadi sebuah materi panggung.

Menurutnya, komedian di Indonesia memegang teguh prinsip utama stand-up comedy, yakni berani menceritakan luka pribadi dan berdamai dengannya sebelum disajikan sebagai hiburan yang mampu menghilangkan stres.

"Stand-up punya rule adalah kau kena cerita pasal keresahan kau dan berdamai dengan keresahan tu, baru kau boleh jadikan dia satu cerita yang cantik," jelasnya.

Shahrol mencontohkan keberanian seorang komika yang mengangkat kisah masa kecilnya saat dijual oleh orang tuanya.

Alih-alih meratapi nasib, sang komika justru mengolah luka tersebut menjadi sindiran jenaka. 

"Kalau andai kata saya jumpa mak bapak saya yang lama, saya nak tanya berapa harga saya dijual?". Ujarnya sambil tertawa .

Baca Juga: Stand Up Comedy Piala Ketua DPRD, Komitmen Mewadahi Potensi Anak Muda

Selain itu , materi bernuansa dark comedy yang dibawakan seorang penderita kanker lidah saat menertawakan kondisinya sendiri juga dinilainya  sebagai bentuk self-deprecating humor yang luar biasa.

Meski materi sensitif seperti itu berisiko memicu polemik jika dibawakan di Malaysia, menurutnya penonton di Indonesia sudah lebih dewasa dalam memahami humor sebagai wahana pelepasan stres.

Ia menutup perbincangan dalam podcast tersebut dengan mengutip ucapan sang komika di atas panggung yang disampaikan sambil disambut gelak tawa.

"Saya harap anda semua dapat gelak kerana itu adalah wasiat terakhir saya." pungkasnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
shahrol shiro Komedi stand up comedy pelawak Malaysia