Menilik Makoko, Permukiman Apung di Nigeria yang Dihuni Ratusan Ribu Orang

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:28 WIB
Foto kehidupan di Makoko, Nigeria. Dimana mereka hidup dengan keterbatasan air bersih. (Tangkapan Layar YouTube Drew Binsky)
Foto kehidupan di Makoko, Nigeria. Dimana mereka hidup dengan keterbatasan air bersih. (Tangkapan Layar YouTube Drew Binsky)

RADARTUBAN — Nigeria merupakan negara di Afrika Barat yang terbagi menjadi 36 negara bagian, termasuk Lagos yang menjadi kota terbesar sekaligus pusat bisnis, perdagangan, dan teknologi utama di kawasan tersebut.

Namun di balik gemerlapnya perekonomian Lagos, tersimpan realitas sosial yang kontras di kawasan pemukiman apung Makoko.

Dilansir dari kanal YouTube Drew Binsky, penelusuran langsung ke kawasan tersebut memperlihatkan lebih dari 300 ribu orang tinggal di rumah-rumah panggung kayu di atas air laguna yang dikenal sebagai salah satu perairan paling tercemar di dunia.

Berdiri sejak abad ke-19 sebagai desa nelayan kecil, sebagian besar penduduk Makoko merupakan suku Ogu yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan secara turun-temurun.

Baca Juga: Wabah Ebola Meluas, AS Berlakukan Larangan Masuk bagi Warga Negara Afrika

Kondisi lingkungan di Makoko tergolong sangat memprihatinkan. Air laguna tampak keruh dan berbau menyengat, namun tetap dimanfaatkan warga untuk aktivitas harian seperti mandi, mencuci, hingga sanitasi. 

Sampan atau perahu kayu menjadi satu-satunya sarana transportasi utama. Hampir setiap keluarga memiliki perahu untuk menunjang mobilitas harian, mulai dari pergi ke pasar, mengantar anak sekolah, hingga mencari ikan.

Pemerintah setempat menganggap keberadaan Makoko sebagai kawasan kumuh yang merusak pemandangan kota.

Ketegangan antara warga dan pemerintah pernah mencapai puncaknya pada tahun 2012, saat pemerintah memberikan tenggat waktu 72 jam sebelum merobohkan sebagian pemukiman pesisir.

Aksi pembongkaran tersebut mengakibatkan sedikitnya 3.000 warga kehilangan tempat tinggal tanpa kepastian relokasi.

Fasilitas dasar di pemukiman ini sangat terbatas. Akses listrik dan sanitasi layak minim dijumpai, sehingga warga harus mengangkut air bersih menggunakan jeriken setiap harinya.

Di sektor pendidikan, sekolah swadaya dikelola secara gratis agar anak-anak setempat tetap bisa mengenyam bangku sekolah.

Gaya hidup mayoritas warga Makoko berfokus pada upaya bertahan hidup dari hari ke hari tanpa terlalu memikirkan tabungan masa depan maupun barang mewah.

Untuk layanan kesehatan, fasilitas medis di kawasan ini hanya dilengkapi beberapa tempat tidur sederhana, dengan kasus penyakit terbanyak berupa malaria dan tifus.

Meski demikian, warga setempat mengklaim bahwa daya tahan tubuh mereka telah terbiasa dengan kondisi lingkungan tercemar tersebut.

Di balik keterbatasan ekonomi, kehangatan sosial masih terjalin erat. Salah satunya terlihat dari keberadaan panti asuhan komunitas yang menampung anak-anak terlantar atau hilang di pasar.

Baca Juga: Sadio Mane Ungkap Mengapa Dirinya Tetap di Lapangan Saat Kekacauan Final Piala Afrika

Atas arahan kepala adat setempat, anak-anak tersebut dibesarkan bersama oleh warga sekitar layaknya keluarga kandung sendiri.

Makoko menunjukkan keteguhan masyarakat lokal yang mampu bertahan hidup di tengah keterbatasan fasilitas dan ancaman penggusuran.

Keberadaan pemukiman apung ini menjadi pengingat pentingnya perhatian pemerintah dalam menyediakan fasilitas dasar dan solusi hunian yang humanis.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Drew Binsky
makoko air laguna nigeria afrika barat