RADARTUBAN — Bagaimana jika obesitas bukan hanya soal pola makan, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana sebuah kota dirancang?
Fenomena tersebut tergambar di McAllen, Texas, Amerika Serikat, sebuah kota yang dalam dokumenter Ruhi Çenet disebut memiliki tingkat obesitas sangat tinggi.
Kota berpenduduk sekitar 150.000 jiwa ini memiliki ratusan gerai makanan cepat saji.
Hampir di setiap sudut, restoran mudah ditemukan bahkan hanya berjarak sekitar 10 menit antargerai.
Hal ini membuat McAllen tampak seperti koridor makanan cepat saji, tempat makanan tinggi kalori menjadi pilihan yang paling mudah dijangkau.
Baca Juga: Ingin Sehat Secara Mudah? Hindari Makanan Cepat Saji, Konsumsi Real Food
Pola makan masyarakat turut memperkuat kondisi .Jenis Makanan yang dikonsumsi banyak mengandung gula, minyak, dan kalori tinggi.
Dalam dokumenter Ruhi Çenet, satu kali makan dapat mencapai sekitar 2.250 kalori. McAllen juga disebut menjadi pusat distribusi Coca-Cola yang sangat besar, menunjukkan kuatnya keberadaan minuman manis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun, persoalannya bukan hanya makanan. Tata kota McAllen lebih berorientasi pada kendaraan bermotor.
Trotoar, jalur sepeda, tempat berteduh, dan fasilitas penyeberangan masih terbatas. Akibatnya, berjalan kaki maupun bersepeda bukan menjadi aktivitas yang mudah dilakukan atau jarang dilakukan.
Cuaca panas dan lembap juga membuat aktivitas luar ruangan tidak menarik. Di sisi lain, makanan cepat saji tersedia dengan harga relatif murah dan porsi besar.
Sebaliknya, makanan sehat seperti buah-buahan justru memiliki harga jauh lebih mahal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa obesitas tidak sepenuhnya tentang seseorang yang terlalu banyak makan atau kurang berolahraga.
Peran lingkungan juga turut membentuk pilihan. Ketika makanan berkalori tinggi mudah ditemukan, kendaraan menjadi pilihan utama, sementara aktivitas fisik sulit dilakukan, pola hidup tidak sehat dapat terbentuk secara perlahan dan sukarela.
Ruhi Çenet juga memperlihatkan kisah seorang warga dengan obesitas ekstrem yang beratnya pernah mencapai 342 kilogram.
Kondisinya membuat ia hanya mampu berbaring di tempat tidur, menggunakan alat bantu oksigen, dan bergantung pada obat. Ketika ditanya apa yang paling dirindukan, jawabannya adalah kebebasan.(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Ruhi Çenet