Ironi Tradisi Suci India: Persembahan untuk Dewa Berujung Jadi Limbah di Sungai

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:02 WIB
Foto penumpukan sampah di sungai suci gangga di India. (Tangkapan Layar YouTube Kendari Demikian Studio)
Foto penumpukan sampah di sungai suci gangga di India. (Tangkapan Layar YouTube Kendari Demikian Studio)

RADARTUBAN — India sering kali dijuluki sebagai tanah para dewa, dan ada alasan kuat di balik sebutan tersebut. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, sekitar 70 hingga 80 persen masyarakatnya menganut agama Hindu.

Dilansir dari kanal YouTube Kendati Demikian, India menjadi salah satu pusat spiritual terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Di negara tersebut, keilahian tidak hanya hadir dalam bentuk kitab suci, tetapi juga terpancar melalui patung, bunga, aliran sungai, dupa, mantra, hingga persembahan atau sesajen.

Dalam tradisi Hindu, persembahan memiliki makna yang sangat mendalam sebagai bentuk cinta dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Pada pagi hari di tepi sungai suci, suasana India terasa seperti panggung besar tempat manusia, dewa, dan alam saling menyapa.

Setiap pagi, jutaan orang memulai hari dengan ritual puja atau doa persembahan. Mereka membawa bunga berwarna oranye, kelapa, daun suci, buah, dupa, serta beragam simbol bakti lainnya.

Akan tetapi, di balik keindahan ritual tersebut, tersembunyi sebuah paradoks besar: semakin banyak persembahan yang diberikan, semakin besar pula limbah yang dihasilkan.

Baca Juga: Dituduh Lakukan Pesugihan, Sarwendah Tegaskan Ritual di Gunung Kawi Hanya Prosedur Adat untuk Syuting

Ritual puja secara teologis dimaknai sebagai tindakan penyucian. Namun secara material, persembahan memiliki fase kedua yang jarang dibicarakan secara serius. Setelah bunga layu, buah dikupas, minyak habis terbakar, serta kain dan plastik pembungkus dibuang, ke manakah semua barang tersebut pergi?

Masyarakat lokal menyebut sisa persembahan sakral ini sebagai Nirmalia. Statusnya yang disakralkan membuat sisa persembahan tidak dapat diperlakukan seperti sampah biasa. Membuangnya ke tempat sampah umum dianggap tidak sopan, sementara membakarnya dapat memicu protes masyarakat.

Alhasil, membuangnya ke sungai dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mengembalikan persembahan kepada unsur alam. Dari sinilah persoalan lingkungan muncul ketika praktik keagamaan dan sistem pengelolaan sampah saling berbenturan.

Persoalan ini bukan lagi perdebatan abstrak, melainkan terlihat jelas dari benda-benda yang mengapung, membusuk, dan menumpuk di lingkungan sekitar. Di kota-kota suci seperti Varanasi, Haridwar, dan Mathura, setiap jengkal tanah dan aliran sungai memiliki nilai spiritual yang tak terukur.

Salah satu yang paling disorot adalah Sungai Gangga. Sungai ini memiliki kedudukan amat sakral dan menjadi pusat berlangsungnya berbagai kegiatan keagamaan. Berbagai jenis persembahan dihanyutkan ke sungai sebagai bentuk penghormatan.

Namun, saat volume persembahan yang dibuang terus meningkat, pencemaran lingkungan tak lagi terhindarkan. Bunga, daun, sisa makanan, hingga pembungkus plastik berakhir di aliran sungai dan melampaui batas kemampuan sungai untuk memprosesnya.

Kondisi ini memperlihatkan adanya tantangan nyata antara mempertahankan tradisi keagamaan dan menjaga kelestarian ekosistem. Tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad tidak serta-merta dapat dihentikan, tetapi cara masyarakat memperlakukan sisa persembahan memerlukan solusi bijak.

Upaya mengatasi persoalan ini membutuhkan pendekatan yang tetap menghormati nilai-nilai keagamaan, seperti menyediakan fasilitas penampungan khusus, mengurangi kantong plastik, serta mendaur ulang material organik menjadi kompos atau produk bernilai guna.

Dengan demikian, nilai spiritual persembahan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kelestarian alam. Pada akhirnya, fenomena di India ini membuktikan bahwa menjaga tradisi dan merawat bumi seharusnya dapat berjalan selaras apabila dikelola dengan tepat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Kendati Demikian
persembahan sungai gannga india spiritual