RADARTUBAN — Kehidupan saat ini nyaris tak bisa dipisahkan dari ponsel, internet, dan teknologi digital, lantas bagaimana jika semua itu justru dianggap sebagai ancaman terhadap kehidupan?
Pertanyaan tersebut tergambar dalam kehidupan komunitas Mennonite ortodoks di Argentina yang memilih menjaga jarak dari hampir seluruh bentuk modernitas.
Fenomena yang bertolak belakang dengan perkembangan zaman ini diungkap dalam dokumenter DW berjudul “Komunitas Mennonite: Dunia Tersembunyi di Argentina”.
Komunitas Mennonite merupakan kelompok Kristen yang tersebar di seluruh dunia. Namun yang tinggal di Argentina dikenal sebagai yang paling terasing dari masyarakat moderen.
Baca Juga: Komunitas Anti Boti Tuban Muncul sebagai Bentuk Perlawanan Maraknya Gay
Fondasi terkuat kehidupan Komunitas Mennonite adalah keluarga dan ketaatan terhadap penafsiran Alkitab yang mereka pegang dengan sangat patuh .
Dokumenter DW merekam kehidupan mereka di Pampa de los Guanacos, Maitán, serta Nueva Esperanza di Guatraché, La Pampa. Di koloni yang masih ortodoks, aktivitas sehari-hari berlangsung dengan aturan yang ketat.
Warga menggunakan kuda sebagai alat transportasi dan membatasi hubungan dengan dunia luar.
“Saling menatap dianggap tidak sopan” menjadi salah satu gambaran mengenai norma interaksi dalam komunitas tersebut.
Bahkan, kebiasaan makan memiliki aturan tersendiri. Saat makan bersama, orang dewasa terlebih dahulu menyantap makanan , setelah itu bertukar gikiran akan anak.
Pola ini menunjukkan kuatnya hierarki dan pembagian peran dalam kehidupan keluarga.
Di Pampa de los Guanacos, lebih dari 170 keluarga hidup dengan akses teknologi yang sangat terbatas.
“Kami tidak punya mobil, radio, ponsel, tidak ada apa-apa. Saya anti dengan ponsel dan internet karena bisa mengubah tingkah laku orang.”
Meskipun menolak mobil, komunitas tetap menggunakan traktor untuk mengolah lahan sekitar 8.000 hektare. Traktor tersebut menggunakan roda besi agar tidak digunakan untuk perjalanan jauh.
Prinsip pasifisme juga menjadi bagian penting kehidupan mereka. Label putih pada pakaian laki-laki menjadi simbol penolakan terhadap senjata dan kekerasan.
“Ini simbol dari kami untuk bilang, ‘Kami tidak punya senjata, kami tidak membunuh orang,’” kata Guillermo, gubernur koloni.
Pembagian peran gender juga berlangsung ketat. Perempuan berfokus pada pekerjaan rumah tangga, memasak, dan mengasuh anak, sedangkan laki-laki bertanggung jawab atas pertanian dan kepemimpinan komunitas. Pendidikan formal pun dibatasi.
Anak laki-laki bersekolah hingga usia 13 tahun, sementara anak perempuan hingga 12 tahun.
Namun, di koloni yang lebih progresif seperti Maitán, pandangan terhadap kehidupan perempuan mulai menunjukkan perubahan.
Martha, salah seorang perempuan Mennonite di Maitán, mengungkapkan pandangan berbeda mengenai pernikahan.
“Melajang itu lebih menyenangkan... Saya sangat senang belum menikah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya pandangan individu yang tidak sepenuhnya seragam di tengah komunitas Mennonite.
Di saat keluarga menjadi fondasi penting kehidupan komunitas, sebagian perempuan mulai melihat pilihan hidup secara lebih personal.
Dengan ketatnya aturan yang berlaku , Komunitas Mennonite mulai berhadapan dengan rasa keinguntahuam generasi mudanya.
Sebagian anak muda diam-diam ingin merasakan seperti apa kebebasan di luar komunitas. Beberapa bahkan menyimpan ponsel atau mendengarkan radio secara sembunyi-sembunyi.
Baca Juga: Gunpla Base Tuban, Komunitas Robot Gundam Tuban: Dari Hobi Masa Kecil, Kini Satukan Lintas Generasi
Pelanggaran aturan dapat berujung pada ekskomunikasi dan pemutusan hubungan dengan keluarga. Contohnya David, mantan anggota Mennonite, mengaku merasakan tertekan dengan pemutusan ini.
“Sangat menyedihkan, saya tidak punya kontak dengan orang tua dan saudara-saudara saya, Padahal dengan saya meninggalkan koloni, itu tidak menghilangkan hak saya untuk menjadi anak ibu saya.” ujarnya.
Di sisi lain, tidak semua koloni menerapkan aturan seketat Pampa de los Guanacos. Di Maitán, mobil, komputer, dan internet mulai digunakan secara terbatas. Sementara itu, Nueva Esperanza membuka kehidupan koloninya bagi wisatawan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa komunitas Mennonite di Argentina berada di persimpangan antara mempertahankan tradisi, menghadapi keinginan generasi muda akan kebebasan, dan menerima perubahan teknologi yang perlahan masuk ke kehidupan mereka.(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube DW Dokumenter