RADARTUBAN– Di tengah budaya flexing yang semakin lekat dengan kehidupan modern. Ketika dunia berlomba menunjukkan siapa negara terkaya, Norwegia justru memilih mengubah kekayaan alamnya menjadi jaminan sosial, investasi, dan bekal bagi generasi mendatang.
Sebagai produsen minyak mentah dan cairan petroleum terbesar di Eropa, Norwegia justru menolak berfoya-foya. Para pemimpin dan ekonom negara itu belajar dari sejarah sejumlah negara yang mengalami kehancuran akibat mendadak kaya karena sumber daya alam.
Kekayaan yang datang terlalu cepat dapat membuat ekonomi bergantung pada komoditas, melemahkan sektor lain, hingga membuat masyarakat terlalu ketergantungan dan kehilangan produktivitas. Fenomena tersebut dikenal sebagai Dutch Disease.
Baca Juga: Prancis Bakal Rombak Susunan Pemain, Lima Perubahan Disiapkan untuk Hadapi Norwegia
Norwegia merupakan salah satu negara kaya dengan cadangan minyak dan gas yang melimpah di Laut Utara. Sejak minyak mulai menjadi sumber pendapatan besar pada akhir 1960-an, pemerintah menyadari bahwa kekayaan alam pasti memiliki batas. Oleh karena itu, Prinsip yang mereka pegang sederhana:
“Uang minyak ini bukan milik generasi sekarang untuk dipamerkan, melainkan hak milik generasi mendatang yang belum lahir.”
Prinsip mereka diwujudkan melalui pembentukan Government Pension Fund Global pada 1990. Dimana pendapatan minyak dikelola dan diinvestasikan dalam berbagai aset serta perusahaan di seluruh dunia. Tujuannya agar kekayaan dari sumber daya alam tetap memberikan manfaat ketika cadangan minyak semakin berkurang.
Warga Norwegiapun sepakat menerika kebijakan membayar pajak tinggi dan harga bensin yang mahal. Adanya Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya agar masyarakat dan perekonomian tidak terlalu bergantung pada kekayaan minyak yang tersedia.
Di balik kebijakan ekonomi tersebut, terdapat karakter bangsa yang kuat dalam menghargai kesederhanaan. Nilai itu tercermin melalui Janteloven, yakni norma sosial tidak tertulis di negara-negara Nordik yang menekankan kesetaraan serta melarang seseorang merasa lebih baik atau lebih istimewa daripada orang lain.
Filosofi kesederhanaan ini terlihat dalam tatanan pembangunan kotanya. Oslo tidak menjadikan gedung pencakar langit sebagai ukuran utama kemajuan. Bangunan tertinggi di Norwegia hanya di kisaran 117 meter.
Ruang publik dan kenyamanan masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan. Gedung Opera Oslo, misalnya, memiliki atap yang dapat diakses sebagai ruang publik. Artinya, kemajuan tidak hanya ditujukan untuk menciptakan kawasan elite, tetapi juga menghadirkan ruang yang dapat dinikmati bersama.
Kekayaan Norwegia juga digunakan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah memberikan berbagai insentif agar masyarakat beralih dari mobil berbahan bakar bensin dan diesel ke mobil listrik. Kebijakan tersebut membuat penggunaan mobil listrik di Norwegia berkembang sangat pesat.
Perubahan serupa juga dilakukan di sektor transportasi laut. Norwegia mengembangkan Yara Birkeland, kapal kontainer bertenaga listrik yang dapat beroperasi secara otomatis.
Kapal ini dirancang untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menekan polusi dari aktivitas pelayaran. Dengan begitu, kekayaan yang dimiliki Norwegia tidak hanya disimpan untuk masa depan, tetapi juga digunakan untuk membangun teknologi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Norwegia akhirnya menunjukkan sebuah paradoks: negara bisa sangat kaya tanpa harus terlihat sibuk membuktikan kekayaannya.
"Kemajuan sebuah kota tidak diukur dari berapa tinggi gedung yang mereka bangun. melainkan dari , seberapa ramah kota itu bagi warganya"
Pesan Norwegia tersebut menegaskan bahwa kekayaan bukan soal kemewahan, melainkan tentang keamanan hidup, lingkungan yang terjaga, dan masa depan generasi berikutnya.(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : youtube VanDjen Media