Di Negara Ini, Remahan Sisa Restoran Jadi Makanan Pokok Sehari-hari

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:59 WIB
Potret olahan Pagpag atau sisa makanan restoran yang telah dimasak ulang dan dikemas dalam bungkus plastik untuk dijual kepada warga di pemukiman kumuh Tondo, Manila. (Tangkapan Layar YouTube OS Indonesian)
Potret olahan Pagpag atau sisa makanan restoran yang telah dimasak ulang dan dikemas dalam bungkus plastik untuk dijual kepada warga di pemukiman kumuh Tondo, Manila. (Tangkapan Layar YouTube OS Indonesian)

RADARTUBAN — Di balik keindahan gedung-gedung pencakar langit di Manila, Filipina, tersimpan potret kemiskinan yang memprihatinkan.

Lebih dari 1 miliar ton makanan terbuang sia-sia setiap tahunnya di seluruh dunia. Namun di Manila, beberapa warga di pemukiman kumuh justru mengumpulkan limbah makanan tersebut untuk dikonsumsi kembali.

Dilansir dari kanal YouTube OS INDONESIAN, salah satu hidangan yang paling populer adalah Pagpag.

Baca Juga: Kenapa Makanan Viral Bikin Orang Rela Antre Berjam-jam? Ini Alasan Psikologisnya

Makanan tradisional khas kawasan Tondo—kampung kumuh terbesar di Manila—ini terbuat dari sisa sampah makanan restoran cepat saji, seperti potongan ayam goreng, hamburger, hingga pasta.

Praktik perburuan makanan sisa ini dimulai saat malam hari. Para pemungut sampah memilah kantong-kantong limbah restoran di tempat pembuangan hingga fajar tiba.

Bagi mereka yang beruntung, potongan ayam berukuran besar bisa didapatkan untuk kemudian dibawa ke pemukiman.

Sebelum disajikan atau dijual kembali, sisa-sisa makanan tersebut dibilas berulang kali menggunakan air panas untuk membuang kotoran yang menempel.

Setelah dinilai bersih, daging tersebut dimasak ulang dengan bumbu seperti kecap asin, minyak, penyedap rasa (MSG), hingga campuran minuman bersoda (Sprite) untuk menambah cita rasa.

Bagi warga Tondo, Pagpag bukan sekadar makanan, melainkan solusi ekonomi yang sangat realistis.

Satu porsi Pagpag olahan dijual dengan harga sekitar 50 Peso Filipina (setara Rp 14 ribu) yang cukup untuk memberi makan satu keluarga isi lima orang. Dibandingkan membeli bahan makanan segar yang harganya mahal, Pagpag menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Fenomena ini menjadi gambaran nyata ketimpangan sosial dan kelaparan global. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 820 juta orang di seluruh dunia masih berjuang melawan kelaparan kronis.

Sementara di Filipina, sekitar 30 persen anak di bawah usia lima tahun mengalami gizi buruk.

Realitas pahit di Manila ini menjadi pengingat berharga untuk senantiasa bersyukur dan tidak membuang-buang makanan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
pagpag sampah Filipina manila makanan