Belanda Seharusnya Tenggelam, tapi Justru Jadi Negara Aman dari Banjir. Apa Rahasianya?

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10 WIB
Potret deretan kincir angin yang berfungsi sebagai mesin pemompa air raksasa. (Tangkapan layar YouTube sanibiru)
Potret deretan kincir angin yang berfungsi sebagai mesin pemompa air raksasa. (Tangkapan layar YouTube sanibiru)

RADARTUBAN — Sebagai negara yang terletak di wilayah pesisir Eropa Barat, Belanda sejatinya hidup dalam ancaman bencana banjir yang membayangi dari masa ke masa. Nama negaranya sendiri, Netherlands,  memiliki arti "tanah rendah".

Hal ini selaras dengan kondisi geografisnya di mana sekitar 26 persen wilayah daratannya terletak di bawah permukaan laut. Bahkan, kota-kota besar sekaligus pusat perekonomian seperti Amsterdam berada sekitar 3 meter di bawah level air laut.

Namun, alih-alih tenggelam layaknya mitos kota Atlantis, Belanda justru berhasil menaklukkan air dan menjadi salah satu negara paling aman di dunia.

Dilansir dari kanal YouTube sanibiru, keberhasilan bangsa Belanda dalam berdamai dengan air merupakan hasil dari perjuangan teknik sipil yang berlangsung selama ratusan tahun.

Baca Juga: Ribuan Anak Indonesia Diadopsi ke Belanda, Skandal Adopsi Era 1970-1980-an Kini Kembali Disorot

Sejak abad ke-12, masyarakat setempat telah mengembangkan sistem rekayasa lahan yang dikenal sebagai polder. Polder adalah teknik memperluas daratan dengan cara mengeringkan kawasan rawa dan teluk melalui pembangunan tanggul kokoh serta pemompaan air secara terus-menerus. 

Lewat metode cerdas ini, Belanda sukses menambah luas daratan baru hingga 7.000 kilometer persegi atau bertambah sekitar 17 persen tanpa harus melakukan ekspansi wilayah ke negara lain.

Landmark ikonik berupa kincir angin raksasa yang kerap diidentikkan dengan wisata estetik Belanda sejatinya merupakan alat vital penyelamat peradaban.

Pada abad ke-17, ribuan kincir angin difungsikan sebagai mesin pompa air mekanis raksasa yang memanfaatkan angin pesisir kencang untuk memindahkan air dari parit polder menuju kanal dan sungai agar daratan tidak kembali tergenang.

Sistem pertahanan air Belanda melompat ke level yang jauh lebih modern setelah diterjang bencana badai laut dahsyat pada tahun 1953 yang menewaskan lebih dari 1.800 jiwa.

Tragedi tersebut melahirkan Delta Works, yakni proyek mega bendungan dan benteng air paling ambisius di dunia.

Salah satu mahakarya paling ikonik dalam sistem Delta Works adalah Maeslantkering yang melindungi Pelabuhan Rotterdam.

Bendungan ini dilengkapi dua lengan baja raksasa sepanjang 210 meter yang beroperasi secara otomatis menggunakan sistem komputer prediktif.

Saat kondisi cuaca aman, pintu air dibiarkan terbuka agar ekosistem laut dan navigasi kapal lalu lintas pelabuhan tetap berjalan normal.

Namun ketika sensor membaca ancaman badai laut ekstrem, lengan baja tersebut akan mengunci secara otomatis untuk menahan gelombang pasang agar tidak menerjang daratan.

Kini, Belanda juga menerapkan filosofi Room for the River (memberi ruang bagi sungai). Alih-alih selalu menahan dan melawan arus, sungai-sungai besar diberikan area khusus untuk meluap secara aman tanpa membahayakan pemukiman.

Kombinasi inovasi teknologi, konsistensi tata kelola lingkungan, serta komitmen bebas korupsi ini menjadikan Belanda sebagai rujukan utama dunia dalam manajemen tata air dan pengendalian banjir. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube sanibiru
belanca banjir kincir angin