RADARTUBAN- Kalau jalan-jalan ke Negeri Gajah Putih, rasanya kurang lengkap kalau belum melihat pertunjukan kabaret yang meriah.
Di atas panggung, para ladyboy atau yang di sana akrab disapa kathoey, tampil memukau dengan gaun berkilau dan riasan yang luar biasa rapi. Saking menjamurnya fenomena ini, banyak media internasional terang-terangan menjuluki Bangkok sebagai transgender capital of the world alias ibu kota transgender dunia.
Tapi, pernahkah kita berpikir seperti apa sebenarnya kehidupan nyata mereka di balik riuh tepuk tangan penonton?
Di Thailand, konsep gender memang jauh lebih cair. Masyarakat di sana tidak kaku mengotakkan manusia hanya sebatas hitam putih, laki-laki atau perempuan. Ada berbagai spektrum identitas yang diakui secara sosial.
Sikap terbuka ini sangat dipengaruhi oleh mayoritas warga Thailand yang menganut agama Buddha Theravada. Ajaran ini sangat menekankan pada konsep karma dan welas asih, sehingga masyarakatnya cenderung lebih rileks dan menerima perbedaan jalan hidup seseorang tanpa banyak menghakimi.
Baca Juga: Selebgram Transgender Isa Zega Ditahan di Lapas Wanita Atas Kasus Pencemaran Nama Baik Bos MS Glow
Namun, jangan kira jalan mereka serba mulus, dilansir dari video YouTube kanal Menyelami Fakta ternyata di balik senyum ramah tersebut, ada tantangan sosial dan hukum yang lumayan bikin pusing.
Salah satu momen paling menegangkan buat para ladyboy adalah saat musim wajib militer (wamil) tiba. Secara hukum, negara masih mencatat jenis kelamin mereka sebagai laki-laki di dokumen resmi.
Alhasil, mereka mau tidak mau harus tetap datang ke tempat undian wamil, berbaris bersama pria lain, meski secara fisik dan penampilan sudah menjadi perempuan seutuhnya.
Selain urusan wamil, dunia kerja kantoran juga masih sering memandang mereka sebelah mata. Banyak perusahaan formal yang masih ragu mempekerjakan kelompok ini di posisi manajerial.
Belum lagi soal tekanan sosial yang diam-diam masih mengintai, terutama bagi mereka yang lahir dan besar di lingkungan desa atau dari keluarga yang masih sangat konservatif.
Lalu, di tengah tekanan itu, kenapa kelompok ini tetap kuat bertahan? Jawabannya ada pada pergeseran zaman. Dulu, mereka mungkin harus banting tulang masuk TV untuk bisa diakui dan mendapat uang.
Sekarang zamannya sudah beda. Cukup bermodal smartphone dan kreativitas, mereka bisa eksis dan meraup cuan dari media sosial seperti TikTok atau Instagram.
Tidak hanya itu, Thailand saat ini benar-benar memanen untung besar dari Pink Economy—ekonomi yang digerakkan oleh komunitas LGBTQ+.
Negara ini telah menjelma menjadi pusat wisata medis terkemuka, khususnya untuk Gender Reassignment Surgery (GRS) atau operasi ganti kelamin kelas dunia. Angin segar terbesarnya baru saja bertiup kencang ketika pemerintah mengesahkan Marriage Equality Bill pada tahun 2024.
Pada akhirnya, kisah identitas gender di Thailand adalah sebuah potret nyata tentang keseimbangan antara penerimaan budaya dan kerasnya perjuangan birokrasi.
Di balik julukan ibu kota transgender dan sumbangsih mereka terhadap roda ekonomi negara, para ladyboy tetaplah manusia biasa yang berhak mendapatkan ruang aman, keadilan hukum, dan kesetaraan di negerinya sendiri.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni