Di Balik Kota Suci Vrindavan, Ada Ribuan Janda yang Hidup dalam Bayang-Bayang Stigma

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:48 WIB
ara janda lansia memakai kain putih yang tinggal dan bertahan hidup di sudut kita Vrindavan, India. (Tangkapan layar youtube Kendati Demikain)
ara janda lansia memakai kain putih yang tinggal dan bertahan hidup di sudut kita Vrindavan, India. (Tangkapan layar youtube Kendati Demikain)

RADARTUBAN — India dikenal sebagai negeri yang sarat akan spiritualitas. Setiap kota, sungai, hingga pepohonan tua kerap dianggap menyimpan kekuatan suci.

Bahkan, ada pepatah yang menyebut India tidak sekadar dibangun, melainkan dilahirkan dari meditasi para resi, air mata duka, dan nyanyian bakti para peziarah.

Dilansir dari YouTube Kendati Demikian Studio, sekitar 150 kilometer dari New Delhi, berdiri sebuah kota bernama Vrindavan di wilayah Uttar Pradesh. Secara harafiah, Vrindavan berasal dari bahasa Sanskerta Vrinda (tulsi atau daun suci) dan Van (hutan), yang bermakna 'Hutan Tulsi'.

Dalam tradisi Hindu, Vrindavan diyakini sebagai tanah suci tempat Dewa Krishna menghabiskan masa mudanya. Setiap tahun, ratusan ribu peziarah dari berbagai penjuru dunia datang untuk menyentuh tanah yang diyakini pernah dipijak sang dewa.

Baca Juga: Mengapa Negara Berpenduduk Besar Seperti Indonesia, Tiongkok, dan India Sulit Tembus Piala Dunia?

Namun di balik statusnya sebagai kota cinta dan tempat tujuan ziarah, Vrindavan menyimpan realitas sosial yang kontras. Kota ini menjadi tempat perlindungan sekaligus lokasi pengasingan bagi ribuan perempuan yang kehilangan suami mereka, hingga dijuluki sebagai Kota Para Janda.

Dalam tradisi kuno di sebagian masyarakat, status sosial perempuan sangat terikat pada keberadaan suaminya. Ketika suami meninggal dunia, janda kerap dianggap membawa nasib buruk, dicap penolak keberkahan, hingga diisolasi oleh keluarga maupun lingkungan sosialnya.

Para janda ini dipaksa menanggalkan identitas kewanitaan mereka. Pakaian berwarna-warni diganti dengan kain sari putih kusam sebagai simbol penghapusan identitas. Mereka dilarang memakai perhiasan, berdandan, menghadiri pesta pernikahan, bahkan tidak diperkenankan melihat bayi yang baru lahir.

Di beberapa komunitas konservatif, para janda bahkan dipaksa mencukur habis rambut mereka.

Untuk bertahan hidup, banyak janda tinggal di asrama-asrama kumuh dan bangunan tua tanpa pemanas. Demi mendapatkan sesuap nasi atau sedikit koin, mereka harus menyanyikan lagu-lagu pujian (Hare Krishna) selama berjam-jam di aula-aula doa.

Kondisi hidup yang serba terbatas membuat sebagian besar dari mereka minim akses terhadap layanan medis. Banyak di antaranya mengalami masalah gizi buruk, gigi tanggal, hingga penyakit kulit.

Vrindavan berdiri sebagai simbol dualitas yang nyata, sebuah kota suci yang dipenuhi sejarah dan nilai spiritualitas tinggi, sekaligus ruang sunyi tempat ribuan perempuan bertahan hidup di tengah kerasnya stigma sosial. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Kendati Demikian
vrindavan suci india janda