RADARTUBAN — Viralnya sebuah foto dari tur konser Eternal Sunshine (2026) milik Ariana Grande kembali memicu diskusi hangat mengenai sisi gelap popularitas di era digital.
Dikutip dari kanal YouTube FaceTatt Philosophy, foto yang memperlihatkan Ariana Grande tampak lelah di tengah lautan layar ponsel penonton tersebut dinilai sangat mirip dengan adegan dalam serial distopia populer Black Mirror.
Diskusi ini menyoroti bagaimana realitas kehidupan para selebritas modern seperti Ariana Grande, Lady Gaga, hingga Miley Cyrus makin menyerupai cerita fiksi ilmiah.
Banyak publik yang mengaitkan fenomena ini dengan episode Black Mirror tahun 2019 yang diperankan oleh Miley Cyrus (Ashley O), di mana seorang bintang pop dikontrol dan dieksploitasi hingga kehilangan jati dirinya demi keuntungan industri hiburan.
Baca Juga: Inovasi Ramah Lingkungan, Seniman Inggris Ciptakan Furnitur dari Pohon yang Tumbuh Alami
Namun, pembahasan ini tidak hanya menyasar para selebritas papan atas. Penjelasan filosofis mengenai rasa kekecewaan berkelanjutan yang kerap dialami manusia saat mengejar kesuksesan turut diangkat dengan merujuk pada konsep Dialektika Hegel (Hegel's Dialectic).
Dalam konteks tersebut, seseorang sering kali memulai suatu tujuan dengan ekspektasi ideal.
Namun dalam proses pencapaiannya, muncul berbagai konflik, hambatan, dan realitas yang tak terduga. Ketika tujuan tersebut akhirnya tercapai, hasilnya sering kali sangat berbeda dari bayangan awal dan tidak membawa kepuasan emosional yang diharapkan.
Ariana Grande, misalnya. Dia bermimpi menjadi penyanyi R&B sukses sejak kecil, terpaksa memulai karier sebagai aktris cilik di Nickelodeon yang merusak rambutnya akibat eksperimen citra karakter, hingga akhirnya mencapai puncak populartias global namun dihantam trauma besar, serangan bom di konsernya, serta invasivitas publik yang berujung pada pergeseran fokus kariernya kembali ke dunia akting dan teater di era Wicked.
Sementara itu, Lady Gaga harus mengorbankan idealismenya sebagai penyanyi ballad di bar dengan menjelma menjadi bintang pop hiperseksual bergaya glamor lewat busana ekstrem dan wig pirang, sebelum akhirnya berjuang "pulang" ke identitas aslinya lewat album Joanne dan musik jazz bersama Tony Bennett.
Penomoran fenomena ini membuktikan bahwa mengejar popularitas, kekayaan, atau pencapaian material semata kerap menjadi sebuah "ilusi" yang menjebak.
Kunci untuk keluar dari siklus keputusasaan distopia ini bukanlah dengan terus-menerus mengejar validasi publik, melainkan dengan membangun hubungan antarmanusia yang autentik, berkontribusi pada komunitas, serta menemukan makna hidup melalui seni dan ikatan emosional yang nyata. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube FaceTatt Philosophy