Mengintip Eritrea, Negara Tertutup yang Dijuluki "Korea Utara-nya Afrika"

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:52 WIB
Ilustrasi negara Eritrea yang di juluki Korea Utaranya Afrika. ( Tangkapan Layar video YouTube H0se)
Ilustrasi negara Eritrea yang di juluki Korea Utaranya Afrika. ( Tangkapan Layar video YouTube H0se)

RADARTUBAN- Di sudut timur Benua Afrika, berdiri sebuah negara kecil yang seolah hidup di era berbeda. Negara itu adalah Eritrea.

Berada di kawasan Tanduk Afrika, wilayah ini menyimpan realitas kehidupan yang jauh dari kemewahan teknologi modern, hingga kerap dijuluki sebagai "Korea Utara-nya Afrika" karena sifatnya yang sangat tertutup dari dunia luar.

Kondisi sosial dan keterbatasan akses di negara ini tergambar jelas dalam tayangan video di kanal YouTube kendati demikian studio yang bertajuk Eritrea: negara tanpa internet, ATM, TV, dan radio.

Satu hal yang paling menyita perhatian adalah minimnya akses komunikasi. Di saat mayoritas penduduk bumi sudah bergantung pada ponsel pintar, Eritrea justru tercatat sebagai salah satu negara dengan penetrasi internet terendah.

Dikutip dari penjelasannya, hanya sekitar 1 persen dari total penduduk yang pernah mencicipi jaringan internet.

Anak-anak muda di sana sama sekali tidak akrab dengan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, atau YouTube. Untuk bertukar kabar, mereka masih mengandalkan cara tradisional, yakni menulis surat kertas atau memanfaatkan telepon rumah.

Baca Juga: Indomie Jadi Favorit di Nigeria, Ini Strategi Merek Indonesia Menaklukkan Pasar Afrika

Bagi warga yang terpaksa butuh koneksi, mereka harus pergi ke warnet dengan tarif yang lumayan mencekik, sekitar 100 Nakfa atau setara Rp100 ribu.

Kemudian di sektor keuangan, transaksi elektronik hampir tidak ada. Warga tidak mengenal mesin ATM. Setiap orang harus rela mengantre berjam-jam di teller bank hanya untuk menarik uang tunai, itu pun dengan batasan ketat maksimal 5.000 Nakfa per bulan.

Keterbatasan ini juga merembet ke sektor hiburan dan berita. Siaran televisi nasional hanya memiliki satu saluran resmi bernama Eri-TV yang dikelola penuh oleh pemerintah.

Hanya segelintir warga berkecukupan yang secara diam-diam berani memasang parabola satelit demi menangkap siaran internasional, meski risikonya sangat tinggi. Sinyal radio asing pun dibatasi secara ketat agar tidak masuk ke wilayah mereka.

Kehidupan pemuda di Eritrea makin berat dengan aturan wajib militer (wamil) bagi setiap warga yang menginjak usia 18 tahun. Meski secara aturan wamil berlangsung selama 18 bulan, pada kenyataannya masa dinas ini bisa diperpanjang hingga bertahun-tahun tanpa kepastian kapan selesai.

Razia atau pemeriksaan mendadak kerap dilakukan di tempat umum untuk menjaring pemuda yang mangkir dari tugas negara ini. Tak heran jika seorang pakar menggambarkan bahwa pemerintah Eritrea memandang generasi mudanya tak ubahnya seperti properti milik negara.

Ketertutupan Eritrea tentu tidak terbentuk dalam semalam. Sejak abad ke-19, wilayah ini telah melewati sejarah panjang yang penuh pergolakan, mulai dari era kolonisasi hingga perang saudara yang melelahkan.

Rentetan masa lalu yang kelam itulah yang akhirnya membentuk Eritrea menjadi tempat yang begitu terisolasi, menyisakan sunyi di tengah bisingnya kemajuan dunia.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
aritrea Korea Utara afrika