RADARTUBAN - Di balik dinamika politik dan konflik berkepanjangan di Afghanistan, tersimpan penderitaan sosial yang amat kelam. Salah satu potret paling tragis terlihat di Jembatan Pul-e-Sokhtag (Polyta) yang membentang di atas Sungai Kabul.
Tempat ini selama puluhan tahun menjadi sarang bagi ribuan pecandu narkoba yang bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Dilansir dari penelusuran kanal YouTube Beyond Boundaries, kawasan di bawah jembatan tersebut dihuni hampir 2.000 pecandu dan tunawisma. Mereka hidup di antara tumpukan sampah, genangan air limbah yang kotor, serta aroma menyengat.
Fenomena yang paling mengejutkan adalah tingginya tingkat ketergantungan zat di tempat ini, sampai-sampai anjing-anjing liar di sekitar lokasi pun sengaja dicekoki dan mengonsumsi narkoba oleh para pemuda setempat agar hewan-hewan tersebut tidak pergi meninggalkan kawasan jembatan.
Data United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mencatat Afghanistan memiliki sekitar 4 juta pecandu narkoba, salah satu angka tertinggi di dunia.
Baca Juga: Meksiko Tak Hanya Soal Wisata, Ada Gurita Kartel Narkoba yang Mengakar hingga ke Pelosok
Krisis kemanusiaan ini merupakan dampak panjang dari jeratan kemiskinan, pengangguran massal, serta trauma psikologis akibat perang yang melanda negara tersebut selama puluhan tahun.
Menariknya, para penghuni bawah jembatan ini berasal dari berbagai latar belakang, bahkan ada yang berpendidikan tinggi. Salah satunya adalah Abdul Wahad, seorang lulusan program magister dari India yang mengaku telah terjerat kecanduan selama 17 tahun.
Faktor keputusasaan, tidak adanya pekerjaan, serta mudahnya akses mendapatkan zat terlarang seperti metamfetamin (sabuk/crystal meth) dan heroin membuat mereka sulit lepas dari lingkaran setan tersebut.
Meskipun pihak otoritas setempat gencar melakukan penertiban dan membawa para pecandu ke pusat rehabilitasi seperti Camp Phoenix, upaya ini belum sepenuhnya menyelesaikan akar masalah.
Tanpa adanya jaminan lapangan kerja dan dukungan sosial setelah pemulihan, sebagian besar mantan pecandu akhirnya kembali (relapse) ke tempat semula.
Kondisi ini menjadi cerminan nyata bahwa pemulihan sebuah bangsa tidak hanya berfokus pada stabilitas keamanan politik semata, tetapi juga penyembuhan krisis kemanusiaan mendalam yang terlanjur merusak tatanan sosial masyarakatnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni