RADARTUBAN- Di tengah hamparan pasir Gurun Sahara yang membentang luas, terdapat sebuah tradisi unik yang mendobrak kebiasaan banyak masyarakat dunia.
Jika di sebagian besar wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah wanita diwajibkan menutup wajah mereka dengan cadar, hal sebaliknya justru terjadi pada suku Tuareg.
Suku nomaden yang menghuni kawasan Sahara ini memiliki aturan adat yang terbilang langka.
Di sini, kaum pria yang sudah beranjak dewasa wajib memakai kain penutup wajah yang disebut tagelmust, sementara para wanitanya bebas memperlihatkan wajah mereka tanpa rasa malu.
Kain tagelmust yang dipakai para pria Tuareg biasanya berwarna biru kebiruan. Kain ini dililitkan ke kepala hingga menutupi mulut dan hidung, hanya menyisakan bagian mata yang terlihat.
Karena pewarna alami kain sering kali menempel di kulit dan memberikan efek kebiruan, pria Tuareg sering disapa dengan sebutan "Pria Biru dari Sahara".
Bagi masyarakat Tuareg, tagelmust sejak dulu merupakan barang yang sangat berharga. Kain ini bukan sekadar pemanis penampilan atau tren estetika semata, melainkan simbol kehormatan yang sangat sakral dan penanda status sosial seseorang.
Dikutip dari kanal YouTube Akar Rumput, tradisi penutup wajah bagi kaum pria ini memiliki makna spiritual dan kedudukan sosial yang teramat dalam. kain penutup tersebut dianggap sebagai lambang kesopanan dan kehormatan keluarga.
Begitu pentingnya kain ini, hingga beredar cerita legendaris di kalangan mereka bahwa jika dalam situasi perang tudung seorang pria Tuareg terlepas, mereka akan buru-buru menutupi wajahnya dengan tangan demi menjaga kehormatan baru memperdulikan keselamatan mereka.
Bahkan, para pria Tuareg memiliki teknik unik untuk makan dan minum di bawah kain penutup tanpa perlu membuka tudung mereka di hadapan orang lain.
Di sisi lain, kehidupan para wanita suku Tuareg berada pada posisi yang sangat istimewa. Masyarakat Tuareg memegang teguh filosofi dan ungkapan terkenal: "Pria adalah kaki, tetapi wanita adalah kepala."
Ungkapan ini menggambarkan bahwa meski pria bergerak mencari penghidupan, wanitalah yang memegang kendali atas kehidupan sosial dan keputusan penting.
Berbeda dari stereotipe umum, wanita Suku Tuareg justru memiliki tingkat literasi yang tinggi; mereka mampu membaca dan menulis huruf tradisional Tifinagh.
Tak hanya itu, perempuan Tuareg memiliki hak penuh untuk memilih pasangan mereka sendiri tanpa paksaan. Jika terjadi perceraian, aturan adat berpihak penuh pada wanita. Sang wanita berhak menyimpan seluruh harta kekayaan, mulai dari rumah tenda hingga hewan ternak.
Mantan suami harus rela keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa selain unta pribadinya. Menariknya, perceraian di suku Tuareg bukanlah sebuah aib.
Pihak keluarga perempuan justru akan menggelar perayaan pesta perceraian secara bebas untuk mengumumkan bahwa sang wanita telah kembali lajang dan siap untuk mencari pasangan baru.
Kehidupan Suku Tuareg membuktikan betapa indahnya keberagaman budaya manusia di bumi.
Lewat tradisi yang bertahan ratusan tahun ini, mereka memperlihatkan bahwa setiap norma dan cara hidup memiliki filosofinya tersendiri yaitu sebuah gambaran dunia yang tampak terbalik, namun penuh dengan nilai kehormatan, kebebasan, dan kesetaraan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni