RADARTUBAN - Penemuan terbesar NASA di Mars berupa Sampel 25 yang menyimpan bukti paling kuat keberadaan kehidupan purba kini terancam terjebak selamanya di Planet Merah.
Penemuan berharga hasil eksplorasi Rover Perseverance sejak 2021 di Kawah Jezero tersebut terancam gagal dibawa pulang ke Bumi akibat pembatalan anggaran program Mars Sample Return (MSR).
Ulasan dari kanal YouTube How Town mengungkapkan, bahwa pencarian jejak kehidupan ini berawal dari pemahaman bahwa sebuah planet membutuhkan air cair, sumber energi, dan elemen kimia.
Baca Juga: NASA Targetkan Misi Pendaratan di Bulan Setiap Tahun Mulai 2027 dalam Program Artemis Terbaru
Melalui observasi satelit dan rover pendahulu seperti Curiosity, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa miliaran tahun lalu Mars memiliki atmosfer tebal serta aliran air sungai sebelum medan magnetnya meluruh.
Puncak eksplorasi terjadi pada Sol (hari Mars) ke-1.159, saat Perseverance menjelajahi kawasan Neretva Vallis yang merupakan bekas aliran sungai purba.
Instrumen X-ray dan spektrometer pada lengan robotik rover mendeteksi fitur geologi unik pada sebuah batuan terang yang kemudian diambil sebagai Sampel 25.
Penemuan Fitur Bintik Macan Tutul dan Jejak Molekul Organik
Batuan Sampel 25 tersebut menampilkan bintik-bintik berukuran milimeter yang dijuluki para ilmuwan sebagai leopard spots (bintik macan tutul).
Pemetaan elemen menunjukkan, area bintik tersebut kaya akan zat besi, fosfor, sulfur, serta mengandung molekul organik penting.
Di Bumi, proses kimiawi non-biologis untuk menghasilkan mineral iron sulfide di tengah bintik tanpa bantuan mikroba memerlukan suhu yang sangat ekstrem.
Namun, analisis laboratorium rover menunjukkan batuan tersebut tidak pernah mengalami pemanasan tinggi.
Jika struktur leopard spots ini ditemukan di Bumi, para geolog akan langsung mengategorikannya sebagai produk aktivitas mikrobiologis.
Kendati demikian, lembaga antariksa AS tersebut belum berani mendeklarasikan penemuan fosil mikroba secara resmi.
Reaksi kimia murni kerap kali mampu meniru bentuk biologi, seperti pada kontroversi meteorit Mars pada dekade 1990-an.
Krisis Anggaran Program MSR dan Nasib Rover Perseverance
Guna menguji sampel tersebut, NASA dan ESA awalnya merancang misi ambisius Mars Sample Return (MSR) yang melibatkan delapan manuver rumit, termasuk peluncuran roket pertama dari planet lain.
Namun, estimasi biaya misi ini membengkak drastis hingga mencapai 8 sampai 11 miliar dolar AS.
Pembengkakan ini berujung pada penghentian alokasi dana misi pengembalian sampel dalam rancangan anggaran pemerintah Amerika Serikat.
Kini, Perseverance tetap membawa Sampel 25 di dalam tubuhnya sembari bergerak menjelajahi area luar kawah.
Mengingat generator daya nuklir (RTG) milik rover diproyeksikan mulai melemah dalam kurun 10 tahun ke depan.
Perseverance kemungkinan besar harus menjatuhkan tabung sampel tersebut di permukaan Mars agar dapat diambil di masa depan, atau memilih memasuki mode tidur panjang selamanya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari