Krisis Hunian di Kota Berlin Jerman Paksa Pekerja Berpenghasilan Tetap Jadi Tunawisma

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Foto salah satu kehidupan tunawisma di Jerman. (youtube.com)
Foto salah satu kehidupan tunawisma di Jerman. (youtube.com)

RADARTUBAN - Krisis hunian di Kota Berlin Jerman kini menyisakan realita sosial yang memprihatinkan di balik citra Negeri Panzer sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. 

Krisis hunian di ibu kota tersebut membuat banyak warga berstatus pekerja tetap yang memiliki penghasilan bulanan justru tidak mampu menyewa apartemen layak, hingga terpaksa hidup sebagai tunawisma di jalanan.

Dilansir dari tayangan DW Dokumenter, fenomena ini dialami secara langsung oleh Attila Kokas yang bekerja sebagai tukang kebun serta Danny Wagner yang berprofesi sebagai juru masak. 

Baca Juga: Sisi Gelap Ekonomi Amerika Serikat Terbongkar, Ada 5 Krisis Sistemik yang Bikin Miris

Meskipun keduanya rutin bekerja dan mengantongi pendapatan mandiri, keterbatasan pasokan tempat tinggal murah serta melambungnya harga sewa membuat mereka tak punya pilihan selain bertahan di tempat penampungan sementara.

Danny Wagner telah menjalani hidup tanpa rumah selama bertahun-tahun pasca-berpisah dari pasangannya dan menjadi korban pencurian dokumen pribadi. Saat ini, ia bekerja mengurus dapur penampungan tunawisma. 

Di tengah jadwal kerjanya yang padat, Danny terpaksa tinggal di gubuk kayu sederhana berukuran empat meter persegi tanpa aliran listrik dan hanya mengandalkan kompor gas kecil untuk menghangatkan tubuh dari cuaca dingin ekstrem.

Realita Ratusan Ribu Tunawisma dan Tekanan Ekonomi Pekerja

Kisah tak jauh berbeda dialami Attila Kokas, pendatang asal Hungaria yang sudah tujuh tahun menetap di Jerman. 

Dia bekerja memelihara kebun dan mengurus kebersihan kompleks milik lembaga amal. 

Demi menghemat pengeluaran akibat mahalnya tarif transportasi umum, Attila rela bangun pukul 03.00 pagi dan berjalan kaki menuju lokasi kerja.

Bagi Attila, tidur di tempat penampungan umum menyisakan kekhawatiran tersendiri karena minimnya privasi serta maraknya aksi pencurian barang antarpenghuni.

"Faktor utama pemicu krisis ini bukan sekadar pengangguran atau kecanduan, melainkan ketidakseimbangan antara kenaikan upah pekerja kelas bawah dengan lonjakan drastis biaya sewa properti perkotaan," tegas riset dalam dokumenter tersebut.

Data dokumenter mencatat diperkirakan lebih dari 500.000 orang di Jerman tidak memiliki tempat tinggal tetap, dengan sekitar 50.000 di antaranya benar-benar hidup melarat di jalanan atau fasilitas penampungan darurat.

Perjuangan di Tengah Krisis Hunian

Meskipun harus menghadapi tekanan fisik dan mental akibat ketidakpastian tempat tinggal, baik Danny maupun Attila terus berjuang menjaga fokus hidup. 

Keduanya secara konsisten menolak terjerumus ke dalam lingkaran obat-obatan terlarang atau alkohol demi memperjuangkan impian sederhana: memiliki kembali apartemen yang hangat, aman, dan terjangkau secara mandiri.

Fenomena krisis hunian ini menjadi alarm keras bagi pemerintah setempat mengenai mendesaknya solusi nyata untuk mengatasi krisis keterjangkauan papan bagi seluruh lapisan pekerja kelas bawah di tengah arus modernisasi Eropa. (*)



Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
krisis hunian di kota berlin krisis hunian jerman