RADARTUBAN - Bagaimana rasanya menjalani kehidupan ketika matahari tidak muncul selama berbulan-bulan?
Pertanyaan itu menjadi gambaran nyata bagi warga Longyearbyen, sebuah permukiman di Kepulauan Svalbard, Norwegia, yang berada di sekitar 78 derajat Lintang Utara dan hanya berjarak sekitar 1.300 kilometer dari Kutub Utara.
Kehidupan di kota yang berbeda jauh dari wilayah yang umunya mengenal pergantian siang dan malam secara normal. Setiap tahun, Longyearbyen mengalami fenomena Polar Night atau malam kutub.
Sejak sekitar pertengahan November hingga akhir Januari, matahari tidak terbit di atas cakrawala. Bahkan, cahaya matahari belum sepenuhnya terlihat dari permukiman hingga beberapa waktu setelahnya karena terhalang pegunungan.
Meski begitu aktivitas sehari-hari warganya tetap berjalan normal. Anak-anak tetap bersekolah, masyarakat bekerja, dan berbagai fasilitas umum tetap beroperasi meskipun lingkungan di luar rumah gelap dan dingin.
“Di kota ini matahari menghilang selama berbulan-bulan. Saat menunjukkan tengah hari, jalanan masih gelap, anak-anak berangkat sekolah di bawah lampu jalan,” kutipan dalam video YouTube kanal Wonderfyi.
Adapun tantangan warga Longyearbyen bukan hanya menghadapi kegelapan dan suhu dingin, namun juga kota tersebut beradai di habitat alami beruang kutub.
Ketika bepergian keluar kawasan permukiman, masyarakat diwajibkan membawa sarana untuk mengusir beruang kutub dan direkomendasikan membawa senjata api sebagai perlindungan terakhir.
“Pemerintah Svalbard mewajibkan orang yang bepergian di luar permukiman membawa sarana yang sesuai untuk mengusir beruang kutub. Membawa senjata api juga direkomendasikan,” katanya.
Dan ketika musim panas tiba, kondisi sekitar berubah secara ekstrem. Sekitar pertengahan April hingga pertengahan Agustus, Longyearbyen mengalami Midnight Sun.
Matahari dapat terlihat selama 24 jam sehingga masyarakat harus kembali menyesuaikan pola hidup dengan kondisi terang sepanjang hari.
Tidak hanya berhadapan dengan kondisi alam, warga juga menghadapi dampak perubahan iklim. Svalbard mengalami peningkatan suhu sekitar lima hingga tujuh kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Perubahan ini menyebabkan pencairan permafrost, tanah beku yang selama ini menjadi penopang berbagai bangunan dan infrastruktur.
“Svalbard sekarang mengalami salah satu perubahan iklim tercepat di dunia. Suhu di kepulauan ini meningkat sekitar 5 sampai 7 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.”
Ancaman lain datang dari longsoran salju. Peristiwa besar yang pernah menghantam permukiman mendorong pembangunan sistem perlindungan dan pengendalian longsor di kawasan ini.
Baca Juga: Puncak Fenomena Bediding Tuban Picu Suhu Ekstrem: Siang Panas Menyengat, Malam Dingin Menggigil!
Meski berada di lingkungan ekstrem, Longyearbyen tetap dihuni lebih dari 2.000 orang dari berbagai negara.
Kota ini juga memiliki sekolah, supermarket, rumah sakit, pusat penelitian, hingga Svalbard Global Seed Vault yang menyimpan lebih dari 1,4 juta sampel benih.
Kehidupan di Longyearbyen bukan hanya tentang mengalahkan alam, melainkan tentang belajar menyesuaikan diri dengannya.
“Longyearbyen tidak bertahan karena manusia berhasil mengubah Arktik menjadi lingkungan biasa. Yang berubah adalah cara manusia hidup di antara semuanya.” pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni