Jarang Diketahui! Begini Perjalanan Panjang Islam dan Potret Ramadan di Tiongkok

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:40 WIB
Foto umat muslim dari etnis Uighur saat melaksanakan ibadah sholat berjamaah. (pinterest.com)
Foto umat muslim dari etnis Uighur saat melaksanakan ibadah sholat berjamaah. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Cina merupakan negara dengan populasi terbesar kedua di dunia setelah India, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 1,4 miliar jiwa.

Memiliki pengaruh besar di ranah global, banyak analis memprediksi Tiongkok akan tumbuh menjadi negara kekuatan utama (superpower) baru mengalahkan Amerika Serikat.

Di balik kemajuan ekonomi dan politiknya, bagaimana perkembangan Islam di Negeri Tirai Bambu tersebut?

Seperti yang dilansir dari kanal YouTube Redaksi Khazanah, peradaban Islam di Tiongkok telah berakar kuat sejak abad ke-7 masehi pada era Dinasti Tang (618–907 M).

Masuknya Islam dibawa oleh pedagang Arab dan Persia. Salah satu tonggak sejarah paling tersohor adalah diutusnya sahabat Nabi Muhammad SAW, Saad bin Abi Waqqas RA, oleh Khalifah Utsman bin Affan untuk menemui Kaisar Gaozong pada tahun 651 Masehi.

Baca Juga: Kepala SMP BAS Tuban Yulaikah: Tekankan Keseimbangan Ilmu Global dan Karakter Islami

Beliau mendirikan Masjid Huaisheng di Guangzhou yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di daratan Tiongkok. Makam beliau di kawasan Guihuagang, Guangzhou, kini dikenal sebagai Shrine of Islamic Sage dan menjadi destinasi ziarah penting. 

Syiar Islam kemudian terus berkembang pesat pada era Dinasti Yuan hingga Dinasti Ming melalui tokoh maritim legendaris, Laksamana Cheng Ho.

Saat ini, populasi umat muslim di Cina diperkirakan mencapai 25 hingga 30 juta jiwa. Komunitas muslim tersebar di daerah seperti Xi'an, Ningxia, Gansu, Qinghai, hingga Xinjiang.

Kota Urumqi di Xinjiang menjadi pusat komunitas muslim terbesar dengan populasi sekitar 13 juta jiwa yang mayoritas berasal dari etnis Uighur dan Hui.

Di bawah kepemimpinan Partai Komunis Cina (PKC) sejak 1949, pemerintah mengontrol ketat aktivitas keagamaan. Kendati menghadapi aturan asimilasi budaya dan pengawasan ketat, umat muslim di Tiongkok tetap tangguh menjaga identitas keislaman.

Mereka menghidupkan gaya hidup halal serta menggerakkan ekonomi lokal lewat perdagangan kuliner dan jasa.

Jejak keislaman juga tercermin dari arsitektur masjid bersejarah yang memadukan budaya Tiongkok dan Timur Tengah, seperti Masjid Niujie di Beijing, Masjid Agung Urumqi, serta Masjid Agung Xi'an yang berdiri sejak tahun 742 Masehi.

Suasana keagamaan terasa semakin hangat saat Ramadan tiba. Meski berpuasa 14 hingga 16 jam per hari, umat muslim bersukacita menyambut bazar kuliner halal yang menjajakan mi tarik, kebab, hingga nasi pilaf.

Masjid-masjid setempat turut disibukkan dengan agenda buka puasa bersama (iftar), membagikan makanan gratis untuk duafa, menggelar tarawih berjemaah, hingga memuncak pada perayaan Idulfitri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
islam india cina tiongkok