RADARTUBAN - Di pedalaman pegunungan Himalaya, India, yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, terdapat sebuah tradisi pernikahan yang tergolong amat langka.
Suku Hatti yang tersebar di sekitar 450 desa di wilayah Himachal Pradesh dan Uttarakhand masih mempertahankan tradisi poliandri persaudaraan (fraternal polyandry) yang dikenal dengan sistem Jodidara.
Seperti yang dilansir dari kanal YouTube Beyond Boundaries pada sistem tradisi ini, seorang wanita akan menikah dengan dua, tiga, atau lebih pria yang merupakan saudara kandung.
Salah satu warga yang menjalani tradisi tersebut adalah Kiran. Ia membagikan pengalamannya membina rumah tangga bersama tiga pria bersaudara, yaitu Atar Singh, Anil, dan Praep Warma.
"Kami menikah pada tahun 2017. Sejak saat itu, kami berempat berada dalam sistem Jodidara ini dan belum menghadapi masalah apa pun," ungkap Kiran.
Baca Juga: Kenapa Pria Tuareg Justru Menutup Wajah? Tradisi Unik Suku Sahara yang Bikin Penasaran
Kehidupan mereka berjalan harmonis tanpa konflik atau perselisihan. Kiran bukanlah satu-satunya wanita yang menjalani tradisi ini.
Ratani Devi juga menikahi dua pria bersaudara, Suraj Singh dan Rambat, sejak puluhan tahun lalu demi menjaga keutuhan keluarga dan mencegah perpecahan.
Praktik pernikahan ini dilakukan bukan tanpa alasan. Faktor kondisi geografis wilayah Himalaya yang terpencil, lereng yang curam, keterbatasan akses, serta minimnya kepemilikan lahan pertanian menjadi alasan utama lahirnya tradisi tersebut.
Dengan hanya satu pernikahan untuk beberapa pria bersaudara, lahan milik keluarga tidak akan terbagi-bagi menjadi potongan kecil.
Selain alasan ekonomi, pembagian peran kerja juga dinilai menjadi lebih efektif. Ketika satu suami pergi keluar daerah untuk mencari nafkah atau membiayai pendidikan anak-anak, suami lainnya dapat tetap tinggal di rumah untuk mengolah pertanian serta menjaga keluarga.
Meskipun demikian, seiring perkembangan zaman dan masuknya akses pendidikan, tradisi yang telah berlangsung berabad-abad ini mulai menghadapi tantangan.
Anak-anak yang menempuh pendidikan di luar desa kerap mendapatkan ejekan dari masyarakat luar karena dianggap tidak lazim.
Namun, masyarakat Suku Hatti tetap menghormati dan mempertahankan warisan budaya leluhur mereka tersebut sebagai bagian dari identitas dan cara mereka bertahan hidup. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni