RADARTUBAN - Fenomena munculnya figur spiritual atau Godman yang mengklaim memiliki kekuatan mistis dan kemampuan gaib kian marak di India.
Keberadaan para pemuka ajaran ini tak hanya menyedot jutaan pengikut, tetapi juga kerap memicu kontroversi akibat metode pengobatan dan ritual tak lazim yang mereka tawarkan.
Dikutip dari kanal YouTube Kamar JERI, salah satu sosok yang memicu sorotan publik adalah Dhirendra Krishna Shastri.
Pemuda kelahiran 1996 yang menjadi kepala Kuil Bageshwar Dham di Madhya Pradesh ini dikenal memimpin sesi Divya Durbar, sebuah acara spiritual yang kerap ditayangkan di televisi.
Dalam acara tersebut, Shastri mengklaim mampu membaca pikiran, menebak latar belakang serta penyakit seseorang tanpa diberitahu terlebih dahulu, lalu menuliskannya di secarik kertas.
Baca Juga: Kaum Dalit Menjadi Kasta Paling Rendah di India, Sepertiga Populasinya Terjebak Kemiskinan Ekstrem
Dalam beberapa kesaksian, ia menyarankan ramuan tradisional berupa campuran Gaumutra (air kencing sapi) dan kunyit kepada pengikutnya yang mengidap penyakit berat seperti kanker.
Keberadaan Godman seperti Shastri menuai pengikut yang fanatik. Jutaan masyarakat dari berbagai daerah rela mengantri berbulan-bulan demi bisa bertemu dan mendapatkan berkah spiritual.
Popularitasnya yang masif di media sosial bahkan turut dilirik oleh kalangan politisi dan tokoh nasional. Pada awal 2025 lalu, Shastri mulai merintis pembangunan rumah sakit kanker di kompleks Bageshwar Dham yang peletakan batu pertamanya dihadiri langsung oleh pejabat tinggi negara.
Meski begitu, keberadaan panggung spiritualitas ini tak lepas dari gelombang kritik. Gerakan anti-tahayul di India sempat melayangkan tantangan terbuka untuk membuktikan klaim ilmu gaib dan kemampuan supranaturil secara ilmiah.
Namun, ketimbang membuktikannya dalam uji terbuka, perdebatan tersebut sering kali berujung pada saling klaim dan ancaman di media.
Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial-keagamaan yang kompleks di India. Keterikatan masyarakat terhadap figur spiritual tidak hanya dimanfaatkan untuk komersialisasi ritual dan produk herbal, tetapi juga membentuk tren di mana sebagian generasi muda tergiur meraih popularitas instan dengan memanfaatkan klaim-klaim mistis.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni