RADARTUBAN — Penemuan unsur kimia di era industri acap kali diiringi oleh euforia tanpa pemahaman komprehensif mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah keselamatan kerja dunia terjadi pada awal abad ke-20, saat ribuan pekerja wanita terpapar bahaya radiasi dari bahan radium.
Tragedi yang dikenal dengan istilah "Radium Girls" ini menjadi titik balik penting dalam perlindungan hak-hak buruh dan regulasi keselamatan kerja modern.
Menurut penjelasan yang disampaikan kanal YouTube Fajrul Fx, peristiwa ini bermula setelah unsur radium yang ditemukan oleh Marie Curie dan Pierre Curie pada tahun 1898 mulai diperkenalkan ke Amerika Serikat.
Kemampuan radium untuk memancarkan cahaya dalam kondisi gelap (glow in the dark) membuatnya menjadi fenomena populer yang kemudian dimanfaatkan secara luas dalam berbagai sektor industri manufaktur.
Baca Juga: Dari Industri Rumahan Pati Tembus Real Madrid: Ini Rahasia Sukses PT Dua Kelinci!
Seiring meningkatnya pemanfaatan radium dalam industri, lahirlah sistem kerja yang tanpa disadari membahayakan para pekerjanya.
Pada dekade 1910-an hingga 1920-an, perusahaan United States Radium Corporation (US Radium) memproduksi jam tangan bercat radium secara besar-besaran, terutama untuk memenuhi kebutuhan militer pada masa Perang Dunia I.
Demi mendukung produksi tersebut, perusahaan merekrut ratusan hingga ribuan perempuan muda sebagai pelukis angka dan jarum jam dengan iming-iming upah yang jauh lebih tinggi dibandingkan standar gaji pekerja perempuan saat itu, bahkan mencapai tiga kali lipat rata-rata pendapatan mereka.
Namun, pekerjaan yang tampak menjanjikan ini kemudian menjadi awal dari salah satu tragedi kesehatan kerja paling kelam dalam sejarah industri.
Para pekerja diajarkan metode lip pointing atau lip dip, yaitu meruncingkan kuas cat dengan cara mengemutnya di antara dua bibir agar hasil lukisan angka pada jam tangan menjadi presisi.
Tanpa disadari, teknik tersebut menyebabkan zat radioaktif radium tertelan secara terus-menerus dan mengendap di dalam tubuh mereka.
Menurut penjelasan kanal YouTube Fajrul Fx, para pekerja di US Radium menerapkan metode yang sama saat mengecat angka dan jarum jam.
Namun, praktik tersebut tanpa disadari menyebabkan sejumlah kecil radium ikut tertelan setiap kali mereka merapikan ujung kuas dengan mereka.
"Pekerja di US Radium juga melakukan hal yang sama. Sayangnya tanpa disadari dengan melakukan metode itu, ada sejumlah kecil radium yang akan tertelan oleh pekerja. Para pekerja ini tidak mengetahui bahaya dari radium dan berpikir bahwa itu semua baik-baik saja," Ucap Fajrul dalam videonya.
Baca Juga: Industri AI Terancam Krisis, Investasi Jumbo dan Utang Raksasa Mulai Jadi Sorotan
Manajemen perusahaan meyakinkan para pekerja bahwa cat mengandung radium tersebut aman. Namun, para ahli kimia internal perusahaan justru mengenakan pakaian pelindung dan masker saat memproses zat tersebut di laboratorium, sebuah kontras nyata dibanding perlindungan nol bagi para pekerja cat.
Meskipun perusahaan sempat menyangkal tuduhan dan melakukan manipulasi klaim medis, investigasi independen oleh ahli patologi Dr. Harrison Martland berhasil membuktikan keterkaitan langsung antara kondisi para pekerja dengan paparan radiasi radium.
Para pekerja yang selamat, dipelopori oleh Grace Fryer, menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan.
Kemenangan para Radium Girls di pengadilan menjadi preseden penting dalam sejarah hukum ketenagakerjaan.
Kasus ini mendorong pembentukan standar nasional untuk keselamatan kerja, penetapan batas toleransi paparan radiasi, serta berdirinya lembaga perlindungan hak-hak pekerja di Amerika Serikat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni