RADARTUBAN – Masalah kelaparan dan krisis pangan selalu menjadi tantangan besar bagi umat manusia dari zaman dahulu hingga sekarang.
Berbagai cara terus dicoba oleh para ahli untuk melipatgandakan hasil panen. Namun, ada satu kisah unik di abad ke-18 yang terdengar cukup di luar nalar, yakni upaya menyetrum tanaman demi mengejar hasil panen melimpah.
Sejarah mencatat, para ilmuwan di Rusia pernah mencoba metode eksperimental dengan mengalirkan arus listrik langsung ke tanah, air, hingga batang tanaman.
Harapan mereka sederhana: aliran listrik bisa memicu tanaman tumbuh lebih cepat dan lebat untuk mengatasi ancaman kelaparan. Sayangnya, eksperimen yang memakan waktu puluhan tahun dan dana besar tersebut berakhir gigit jari.
Tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa setruman listrik membuat tanaman lebih produktif. Hasil panen yang sempat bagus kala itu diduga hanya kebetulan akibat pengaruh cuaca dan tanah.
Baca Juga: Hidup Tanpa Listrik dan HP, Begini Cara Kaum Amish Bertahan di Tengah Dunia Modern
Meski percobaan awal di masa lalu mengalami kegagalan, ide menghubungkan listrik dengan dunia pertanian tidak sepenuhnya mati. Seiring perkembangannya, teknologi modern justru berhasil memoles inovasi tersebut menjadi lebih masuk akal dan terukur.
"Ya, di era pertanian modern listrik ternyata bisa jadi kunci inovasi. Soalnya ternyata tanaman juga punya muatan listrik. Nah, listrik dalam tanah ternyata bisa bikin tanaman nafsu makan. Tapi alirannya harus super akurat enggak bisa sembarangan kayak yang dilakuin zaman dulu," dilansir dari tayangan YouTube di kanal Kok Bisa.
Dalam dunia pertanian modern, teknologi listrik diterapkan lewat metode yang sangat presisi. Salah satunya adalah pemanfaatan gaya elektrostatis pada cairan pestisida.
Dengan bantuan muatan listrik, butiran semprotan pestisida bisa menempel sempurna pada daun tanpa banyak cairan yang terbuang ke tanah. Selain itu, ada pula teknologi plasma, yaitu gas bertegangan tinggi yang digunakan untuk mengolah permukaan benih agar lebih cepat meresap nutrisi tanah saat ditanam.
Menariknya, pemanfaatan listrik untuk sektor pertanian juga sudah akrab di jumpai di dalam negeri. Petani lokal yakni Edy Purwoka asal Bali, rutin memanfaatkan daya listrik untuk menyalakan lampu di area perkebunan buah naga pada malam hari.
Sinar lampu ini berfungsi memanipulasi pencahayaan alami, sehingga proses fotosintesis terus berjalan dan siklus produksi buah naga menjadi lebih cepat serta mengurangi potensi adanya hama pada tanaman.
Penerapan teknologi seperti ini menjadi krusial mengingat populasi bumi diproyeksikan akan menembus angka 10 miliar jiwa pada 2060 mendatang.
Generasi muda kini dituntut untuk terus melahirkan inovasi pertanian yang jauh lebih efektif dan ramah lingkungan demi menjaga ketahanan pangan masa depan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni