Musik hingga Bahasa Gaul Jakarta Makin Digemari Anak Muda Malaysia, Ada Apa?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 11:03 WIB
Potret para musisi tanah air yang sukses menembus pasar musik Malaysia. (Tangkapa layar Youtube  kanal Nas Creativy)
Potret para musisi tanah air yang sukses menembus pasar musik Malaysia. (Tangkapa layar Youtube kanal Nas Creativy)

RADARTUBAN – Fenomena menarik sedang terjadi di Malaysia. Budaya populer asal Indonesia makin disukai oleh warga di sana, terutama pada anak-anak mudanya. P

erkembangan budaya populer ini secara perlahan mulai menyusupi gaya hidup sehari-hari anak muda di negeri jiran tersebut.

Salah satu pintu masuk utamanya adalah musik. Panggung-panggung konser besar di Kuala Lumpur hampir tidak pernah sepi dari penampilan penyanyi dan band asal Indonesia, mulai dari  band legendaris seperti Sheila on 7 dan dewa 19 hingga musisi indie— Nadin Amizah, tulus dan Hindia. Tiket

konser mereka kerap ludes dalam waktu hitungan menit. Maraknya penampilan musisi luar ini turut memberi tantangan tersendiri bagi para musisi lokal Malaysia untuk mendapatkan sorotan dari negeri sendiri.

Baca Juga: Mengulas Misi Sejarah Voyager, Pengembara Antariksa Terjauh yang Membawa Jejak Budaya Indonesia

Bukan cuma lagu, cara bicara anak muda di negeri Jiran  juga mengalami pergeseran. Generasi muda di Malaysia kini mulai terbiasa menyelipkan bahasa gaul Jakarta dalam percakapan sehari-hari karena dianggap lebih santai dan kekinian dibandingkan bahasa formal.

"Fenomena ini bekerja sangat halus, mirip seperti taktik legendaris Kuda Troya yang menyusup disadari," dilansir dari tayangan YouTube di kanal Nas Creativy.

Fenomena ini sempat membuat para tokoh budaya di Malaysia khawatir. Mereka takut penggunaan bahasa Melayu baku makin tergeser di kalangan warganya sendiri.

Namun, pendekatan aturan yang terlampau ketat dari pemerintah setempat justru dinilai kurang efektif dalam merangkul minat generasi muda.

Di tingkat internasional, persaingan diplomasi budaya juga terus berjalan. Di saat pemerintah Malaysia mengupayakan pengakuan bahasa Melayu di tingkat regional Asean, bahasa Indonesia justru tercatat telah diakui oleh UNESCO pada bulan November 2023 lalu sebagai salah satu bahasa resmi dalam sidang umumnya.

Pada akhirnya, penyebaran budaya populer ini terjadi secara alami melalui dinamika industri kreatif. K

arya yang relevan dan mudah diterima pendengar umumnya akan menemukan pasarnya sendiri, terlepas dari batas-batas wilayah maupun regulasi yang ada.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
maladewa bahasa gaul Indonesia budaya