Fenomena Kabur Aja Dulu Melanda Turki, Pemuda dan Tenaga Ahli Ramai-Ramai Pindah ke Luar Negeri

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 15:21 WIB
Sejumlah anak muda dan tenaga ahli di Turki berkumpul sebelum memutuskan mencari peluang karir di luar negeri. (youtube.com/ APArchieve)
Sejumlah anak muda dan tenaga ahli di Turki berkumpul sebelum memutuskan mencari peluang karir di luar negeri. (youtube.com/ APArchieve)

RADARTUBAN - Bukan hanya di Indonesia, fenomena eksodus anak muda dan tenaga profesional terampil kini tengah melanda Turki akibat kombinasi krisis ekonomi parah, gejolak politik, dan hilangnya harapan masa depan.

Fenomena memprihatinkan yang memicu terjadinya brain drain ini diulas secara mendalam dalam sebuah video di kanal YouTube Sepulang Sekolah. 

Dikutip dari tayangan tersebut, alasan utama generasi muda angkat kaki dari Turki adalah kombinasi krisis politik yang berkepanjangan, gejolak ekonomi yang kian parah, serta hilangnya harapan akan masa depan di negeri sendiri. 

Baca Juga: Minim Lapangan Kerja, Pemuda Tuban Pilih Kabur Aja Dulu: Hongkong dan Taiwan Jadi Jujukan Peruntungan 

Hantaman Krisis Ekonomi dan Gejolak Politik

Secara historis, ketidakpuasan masyarakat Turki terhadap situasi dalam negeri mulai memuncak sejak munculnya gelombang demonstrasi Gezi Park pada 2013. 
Ketegangan sosial tersebut kemudian diperparah oleh peristiwa percobaan kudeta pada 2016. 

Dampak dari rentetan peristiwa politik itu memicu pemerintah melakukan pembersihan massal terhadap berbagai kalangan profesional, sehingga menciptakan iklim politik dan keamanan yang tidak lagi kondusif bagi kebebasan berpendapat.

Selain situasi politik yang kian memanas, tekanan ekonomi menjadi pukulan paling telak bagi masyarakat. 

Turki dilanda krisis ekonomi parah yang ditandai dengan tingkat inflasi sangat tinggi, di mana angkanya sempat menembus 85,8 persen pada Oktober 2022.

Anjloknya nilai mata uang Lira secara drastis membuat biaya hidup sehari-hari membumbung tinggi, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan justru semakin terbatas. 

Kondisi ini membuat banyak lulusan muda merasa tidak dihargai, terjebak dalam pengangguran, dan kehilangan arah dalam menata karier. 

Aturan Sosial dan Kebebasan Personal

Di samping persoalan ekonomi dan politik, kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu memaksakan aturan dengan latar belakang keagamaan turut membuat sebagian kaum muda merasa tidak nyaman. 

Mereka akhirnya memilih menjauh dari keterikatan religius formal demi mendapatkan kebebasan personal yang lebih luas dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. 

Kondisi kompleks tersebut berujung pada dampak serius berupa brain drain atau hilangnya sumber daya manusia berkualitas secara masif. 

Tenaga ahli seperti dokter dan insinyur berbondong-bondong pindah ke negara lain yang menawarkan apresiasi profesi serta fasilitas hidup yang jauh lebih layak. 

Eksodus Massal dan Realita di Perantauan

Mirisnya, pemerintah Turki terkesan bersikap cuek terhadap fenomena ini dan menganggap tenaga profesional yang pergi bisa dengan mudah digantikan oleh para lulusan baru. 

Kendati demikian, hidup di negeri orang tak selalu berjalan manis sesuai harapan. Masih dari video yang sama, beberapa imigran akhirnya memilih kembali ke Turki setelah menghadapi berbagai tantangan berat di perantauan. 

Seperti sulitnya beradaptasi dengan budaya baru dan lingkungan asing. Namun demikian, bagi mayoritas anak muda lainnya, melangkah keluar dari Turki tetap dianggap sebagai satu-satunya jalan rasional demi meraih masa depan yang lebih pasti. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Politik brain drain krisis ekonomi TURKI generasi muda