Mengenal Komunitas Hijra India, Transgender yang Dipuja Sekaligus Terpinggirkan

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 08:32 WIB
Potret sekumpulan komunitas Hijra India. (Tangkapan layar YouTube Earth Pages TV)
Potret sekumpulan komunitas Hijra India. (Tangkapan layar YouTube Earth Pages TV)

RADARTUBAN - Komunitas Hijra atau Kinar di India menyimpan fenomena sosial yang sangat unik namun sarat akan kontradiksi.

Keberadaan mereka telah tercatat sejak ribuan tahun lalu dalam lembaran sejarah kuno India sebagai tritia prakriti atau konsep gender ketiga.

Kehadiran mereka sering kali sangat ditunggu dalam momen perayaan penting keluarga, seperti pesta pernikahan atau acara syukuran kelahiran bayi, untuk memberikan doa serta keberkahan.

Dalam sudut pandang budaya lokal, kelompok transgender ini diyakini memiliki hubungan spiritual yang sangat erat dengan kekuatan alam semesta.

Mereka kerap dihubungkan dengan konsep keseimbangan antara energi maskulin dan feminin, layaknya simbol sakral Ardhana Rishvara dalam ajaran Hindu.

Dikutip dari video YouTube kanal Menyelami Fakta yang berjudul "HIJRA INDIA: Dianggap pembawa berkah? Transgender yang dipuja", masyarakat lokal meyakini bahwa doa dari seorang Hijra dapat mendatangkan nasib baik, namun juga dapat mendatangkan Rap (sumpah atau kutukan) jika mereka merasa tersinggung atau ditolak, yang kemudian membuat mereka sangat ditakuti.

Baca Juga: Dhirendra Krishna Shastri: Pemuda Godman India yang Mengaku Mampu Baca Pikiran dan Sembuhkan Kanke

Namun, di balik posisi sakral tersebut, kenyataan hidup sehari-hari yang harus mereka jalani justru terbilang sangat pahit. 

Sebagian besar anggota komunitas Hijra terpaksa hidup terpisah di garis kemiskinan akibat ditolak dan diusir oleh keluarga mereka sendiri sejak usia dini. 

Untuk dapat bertahan hidup di tengah kerasnya lingkungan, mereka akhirnya bergabung membentuk kelompok khusus yang dipimpin oleh seorang guru/mentor melalui sistem tradisional yang dikenal dengan nama Guru-Cela.

"Komunitas Hijra di India itu punya struktur organisasi yang sangat rapi. Ketika seorang transgender diusir dari rumahnya, mereka biasanya ditampung dalam sebuah rumah komunitas yang di pimpin oleh seorang guru atau mentor senior ," ungkap narator dalam video tersebut.

Ketiadaan akses terhadap pekerjaan formal membuat banyak dari mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengemis di jalanan atau menjadi pekerja di jalanan.

Stigma negatif yang melekat kuat di tengah masyarakat membuat pergerakan sosial mereka menjadi sangat terbatas selama bertahun-tahun.

Kondisi marginal yang berlangsung turun-temurun ini menempatkan mereka pada posisi yang serba sulit, yakni dihormati dalam urusan ritual adat namun diabaikan dalam tatanan sosial bermasyarakat.

Angin segar perubahan serta harapan baru baru mulai berembus secara nyata ketika pihak pemerintah memberikan pengakuan secara sah.

Baca Juga: Kaum Dalit Menjadi Kasta Paling Rendah di India, Sepertiga Populasinya Terjebak Kemiskinan Ekstrem

Pada tahun 2014, Mahkamah Agung India secara resmi mengesahkan status Hijra sebagai gender ketiga yang diakui oleh negara. 

Langkah hukum yang sangat penting ini memberi mereka kepastian hak sipil, seperti pencantuman kolom gender ketiga pada dokumen negara serta penyediaan kuota khusus dalam dunia pendidikan dan lapangan kerja formal.

Meskipun upaya untuk mengubah persepsi masyarakat yang mengakar ratusan tahun masih memerlukan waktu yang panjang, pengakuan ini telah membuka jalan kemajuan bagi mereka.

Kini, beberapa individu dari komunitas Hijra berhasil membuktikan potensinya dengan meniti karier sebagai dosen, figur publik, hingga menduduki jabatan penting di panggung politik.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Komunitas Hijra india kemiskinan transgender