RADARTUBAN - Negara Argentina selama ini dikenal luas sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia yang sukses melahirkan banyak pemain bintang hebat.
Namun, di balik prestasi gemilang di lapangan hijau, kondisi ekonomi negara ini justru sangat kontras dan terus-menerus terjebak dalam masalah krisis serta inflasi kronis.
Padahal, jika melihat sejarah pada awal abad ke-20 silam, Argentina sempat mencatatkan diri sebagai salah satu negara paling makmur di dunia.
Kejayaan tersebut didorong oleh kekuatan ekspor komoditas pertanian dan peternakan yang sangat melimpah dari kawasan subur Pampas.
Ibukotanya, Buenos Aires, bahkan mendapat julukan mentereng sebagai "Paris of South America" karena kemewahan dan perkembangan kotanya yang luar biasa pesat.
Sayangnya, kejayaan ekonomi tersebut tidak mampu bertahan lama karena fondasi keuangannya terlalu rapuh dan bergantung pada satu sektor saja.
Baca Juga: Messi Resmi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Surat Perpisahan Lengkapnya
Dikutip dari kanal YouTube Kacamata Dunia, disebutkan bahwa akar masalah ekonomi Argentina bermula dari ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap ekspor komoditas tunggal serta aliran investasi asing.
"Masalah utama Argentina bukan terletak pada kekurangan sumber daya, melainkan karena ekonominya bergantung pada satu hal, ekspor komoditas. Pada 28 Juli 1914, Perang dunia 1 dimulai, Perdagangan internasional langsung terganggu. Kapal dagang berkurang. Permintaan dari Eropa turun. Arus investasi mulai melambat," dikkutip dari Youtube Kacamata Dunia
Situasi ini membuat kestabilan negara menjadi sangat rentan ketika pasar global mengalami guncangan besar, seperti yang terjadi pada peristiwa Depresi Besar tahun 1929.
Keadaan semakin rumit ketika memasuki era kepemimpinan Juan Domingo Peron pada dekade 1940-an. Pemerintah saat itu mulai menerapkan kebijakan subsidi yang sangat luas, nasionalisasi berbagai sektor penting, serta memperbesar peran negara dalam perekonomian secara berlebihan.
Akibatnya, defisit anggaran terus membengkak dan pemerintah kerap mengambil jalan pintas mencetak uang baru demi menutupi kekurangan dana, yang pada akhirnya justru memicu lonjakan inflasi yang tidak terkendali.
Dampak dari kebijakan moneter yang buruk tersebut menyeret Argentina ke dalam lingkaran setan gagal bayar utang dan krisis keuangan berulang kali.
Berdasarkan tayangan video dokumenter tersebut, negara ini sempat mengalami hiperinflasi yang sangat mengerikan hingga mencapai 3.079 persen pada tahun 1989.
Puncak kehancuran ekonomi lainnya terjadi pada tahun 2001, di mana krisis keuangan yang parah memicu kerusuhan massal di berbagai wilayah hingga menyebabkan pergantian lima presiden dalam kurun waktu hanya dua minggu.
Berbagai upaya reformasi telah dicoba, mulai dari rencana konversi nilai tukar peso terhadap dolar hingga meminta bantuan dana darurat dari IMF. Namun, solusi tersebut belum mampu memberikan penyembuhan permanen karena masalah dasar pada sektor fiskal tidak pernah diselesaikan secara tuntas.
Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei yang mulai berkuasa sejak akhir tahun 2023, pemerintah mengambil langkah drastis dengan memangkas pengeluaran negara, mencabut subsidi besar-besaran, serta menghentikan kebiasaan mencetak uang baru.
Berdasarkan perkembangan terbaru, langkah tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan inflasi, meski tantangan besar masih menghadang di depan mata untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni