RADARTUBAN - Peta kekuatan industri otomotif global saat ini sedang mengalami pergeseran yang sangat drastis.
Selama hampir satu abad lamanya, raksasa asal Jepang seperti Honda dan Toyota terbiasa memimpin pasar mobil dunia berkat filosofi monozukuri atau dedikasi tinggi pada kesempurnaan.
Mobil-mobil buatan Jepang sangat terkenal di berbagai belahan dunia karena memiliki mesin yang awet, tingkat presisi yang sangat tinggi, serta keandalan jangka panjang yang sudah teruji oleh waktu.
Namun, dominasi lama tersebut kini mulai mendapat tekanan yang sangat kuat dan serius dari kebangkitan industri otomotif asal China yang bergerak jauh lebih cepat.
Menyadari bahwa mengejar ketertinggalan dalam teknologi mesin bensin konvensional adalah hal yang sangat berat, China mengambil langkah taktis dengan beralih secara total ke industri mobil listrik sejak tahun 2009.
Baca Juga: Toyota Avanza atau Daihatsu Xenia, Mana yang Lebih Layak Dibeli untuk Mobil Keluarga?
Berdasarkan tayangan kanal YouTube room 49 dengan tajuk Gimana Caranya Industri Mobil china nikung jepang?, strategi yang digunakan mirip seperti siasat perang Sun Tzu, dimana mereka mengamankan rantai pasokan bahan baku baterai global seperti litium, kobalt, dan nikel lebih awal dibanding negara lain.
Perbedaan prinsip produksi juga terlihat sangat kontras di antara keduanya, di mana pabrikan China jauh lebih berani mengambil risiko demi kecepatan penetrasi pasar global.
Hal ini ditegaskan langsung dalam video tersebut melalui sebuah kutipan yang menjelaskan mentalitas industri mereka, "Kalau Jepang itu harus sempurna dulu baru boleh dijual. China tuh pragmatis banget, rilis dulu aja, kalau ada yang kurang kita benerin sambil jalan," ujar narator video room 49.
Pendekatan pragmatis ini membuat siklus produksi China jauh lebih cepat, yaitu hanya 1,5 hingga 2 tahun saja, sedangkan standar pabrikan Jepang biasanya membutuhkan waktu sekitar 4 tahun sebelum produknya benar-benar siap dipasarkan ke konsumen luas.
Situasi pelik ini bahkan membuat para petinggi pabrikan besar Jepang secara terbuka mengakui ketertinggalan strategi mereka dalam hal efisiensi ekosistem produksi modern.
Dilansir dari kanal YouTube room 49, CEO Honda Toshihiro Mibe sempat menyampaikan pengakuannya setelah berkunjung langsung ke salah satu pabrik modern di Beijing, bahwa mereka saat ini kesulitan menandingi kecepatan dan otomatisasi robotik yang berjalan nonstop selama 24 jam penuh.
Sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi tersebut, para eksekutif senior Honda bahkan rela memotong gaji mereka sendiri sambil mengevaluasi ulang proyek kendaraan listrik lama.
Kedepannya, persaingan ini tentu akan terus menarik untuk disaksikan, terutama melihat bagaimana Jepang mulai memfokuskan sumber daya pada teknologi Solid State Battery dan China yang semakin gencar mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam kendaraan masa depan mereka.(*)