RADARTUBAN – Norwegia menyimpan kekuatan industri budidaya perikanan laut paling menguntungkan di dunia.
Nilai ekspor komoditas salmon Norwegia saja tercatat mencapai 124,7 miliar kroner Norwegia per tahun, atau setara Rp 190 hingga Rp 200 triliun.
Sejarah industri raksasa ini dimulai pada 1970 di sebuah pulau kecil bernama Hitra.
Dua bersaudara lokal, Ove dan Severt Grøntvedt, melepaskan sekitar 20 ribu ekor anak salmon ke dalam jaring apung rakitan mereka.
Langkah spontan ini mendadak mengubah peta perikanan dunia.
Baca Juga: Mengapa Negara Beriklim Dingin Sering Diidentikkan Lebih Kaya? Simak Alasannya
Pemerintah Norwegia pun bergerak cepat dengan mengesahkan Undang-Undang Lisensi Perikanan Budidaya pada 1973.
Tujuannya adalah memastikan keuntungan dari industri baru ini tidak hanya dinikmati segelintir pengusaha besar, melainkan menyebar merata ke berbagai komunitas kecil di sepanjang garis pantai.
Kebijakan strategis ini memicu lonjakan produksi hingga 40 persen setiap tahunnya pada kurun waktu 1972 hingga 1975.
Keberhasilan luar biasa ini didukung penuh oleh kondisi geografis Norwegia yang sangat unik.
Garis pantai Norwegia yang meliuk di sepanjang fjord memiliki panjang lebih dari 100 ribu kilometer, dua kali lipat keliling bumi.
Keberadaan arus hangat Gulfstream dari Karibia juga menjaga air laut tidak membeku di musim dingin, sehingga menciptakan suhu ideal untuk pertumbuhan salmon.
Strategi 'Project Japan' Ubah Tradisi Kuliner World
Sisi menarik lainnya terjadi pada 1986 melalui peluncuran kampanye pemasaran bernama Project Japan yang dipimpin Thor Listo.
Kala itu, masyarakat Jepang tidak pernah mengonsumsi salmon dalam kondisi mentah karena risiko parasit pada salmon liar Pasifik.
Norwegia berhasil mengubah persepsi tersebut dengan membuktikan bahwa salmon budidaya mereka bebas parasit dan aman dikonsumsi segar.
Hasil dari strategi pemasaran satu negara tersebut sukses mempopulerkan salmon sebagai salah satu bahan sushi paling populer di dunia hingga hari ini, ketimbang tradisi kuliner murni asli Jepang seperti yang dikira banyak orang.
Saat ini, skala operasi industri salmon Norwegia telah berkembang sangat masif dengan adopsi teknologi tinggi.
Satu peternakan salmon modern di Norwegia mampu menampung lebih dari 1 juta ekor ikan sekaligus dengan nilai panen yang bisa mencapai lebih dari Rp 38 miliar hanya dari satu lokasi peternakan.
Untuk mengatasi persoalan ekologis seperti hama kutu laut dan ancaman kebocoran ikan ke alam liar, kini Norwegia mulai menerapkan teknologi sistem kurungan tertutup berbentuk tabung silinder raksasa setinggi 72 meter di bawah permukaan laut.
Secara keseluruhan, komoditas hasil laut Norwegia kini diekspor ke lebih dari 100 negara.
Industri ini menyuplai rata-rata 38 juta porsi makanan laut setiap hari di seluruh belahan dunia, makin menegaskan posisi Norwegia sebagai raja salmon dunia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari