RADARTUBAN - Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman terus memanas. Kondisi tersebut disebut membawa tekanan terhadap kestabilan ekonomi sekaligus keamanan kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan video yang diunggah kanal YouTube Nas Creativy berjudul "Apakah Houthi menjadi pintu Kehancuran Arab Saudi", kekuatan Houthi disebut semakin meningkat.
Hal tersebut disebabkan setelah Houthi menguasai sekitar 75 persen wilayah penting di Yaman, termasuk kawasan yang berkaitan dengan jalur perdagangan minyak dunia di Selat Bab el-Mandeb.
Baca Juga: Israel vs Hizbullah Memanas Kelompok Houthi Yaman Tembakkan Rudal ke Israel
Situasi tersebut membuat Arab Saudi menghadapi ancaman yang tidak hanya berkaitan dengan pertahanan militer.
Sektor keuangan dalam negeri juga disebut ikut terdampak karena perekonomian kerajaan sangat bergantung pada ekspor minyak mentah.
Jalur Minyak Saudi Jadi Sasaran Tekanan
Tekanan ekonomi semakin terasa setelah jalur ekspor minyak vital Saudi disebut mengalami gangguan akibat serangan berulang terhadap Petroline atau Pipa Timur-Barat.
"Pipa raksasa ini bukanlah fasilitas sembarangan. Kemampuannya sangat luar biasa karena dia memikul tanggung jawab untuk mengalirkan sekitar 5 persen, dari seluruh kebutuhan minyak dunia setiap harinya," bunyi narasi dalam video tersebut.
Terhentinya aliran ekspor minyak disebut dapat menimbulkan efek domino, mulai dari pemangkasan subsidi masyarakat, kenaikan harga barang, hingga ancaman terhadap keberlanjutan sejumlah proyek ambisius seperti pembangunan kota Neom.
Biaya Pertahanan dan Ancaman Infrastruktur
Selain tekanan finansial, konflik tersebut dinilai menghadirkan ketimpangan dari sisi biaya persenjataan.
Houthi disebut memanfaatkan drone berbiaya relatif murah untuk menyerang fasilitas minyak, sedangkan Saudi harus mengeluarkan biaya besar untuk rudal pertahanan atau pencegat yang disebut mencapai lebih dari Rp 60 miliar per unit.
Dalam video tersebut juga disebutkan bahwa selama sekitar 38 hari, Saudi dilaporkan telah menggunakan hingga 86 persen cadangan rudal pertahanannya.
Ancaman lain yang disebut dapat berdampak langsung kepada masyarakat adalah kerusakan fasilitas desalinasi air, seperti yang berada di Jubail.
Fasilitas tersebut disebut memasok sekitar 90 persen kebutuhan air minum bagi jutaan penduduk di ibu kota Riyadh.
Tekanan di dalam negeri kerajaan juga disebut meningkat karena muncul kekhawatiran mengenai gangguan keamanan internal serta berkurangnya fasilitas bagi kalangan elite istana akibat penurunan pendapatan negara.
Meski demikian, perlawanan terbuka dinilai nyaris mustahil karena adanya trauma dari pembersihan Ritz-Carlton pada 2017.
"Saat itu Muhammad bin Salman mendadak mengurung ratusan pangeran senior, pejabat, dan miliarder di hotel mewah tersebut. Harta dan aset triliunan rupiah milik mereka disita paksa oleh negara sebagai tebusan untuk bebas. Dan sejak saat itu nyali para elit benar-benar hancur," lanjut narasi tersebut saat menjelaskan situasi pembersihan Ritz-Carlton pada akhir 2017 silam.
Di sisi lain, kekhawatiran Arab Saudi juga disebut berkaitan dengan potensi sabotase internal oleh kelompok minoritas Syiah di Provinsi Timur, wilayah yang menjadi lokasi ladang minyak raksasa Ghawar.
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, pihak berwenang tetap berupaya menjaga stabilitas negara di tengah situasi ekonomi dan keamanan yang disebut semakin menekan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari