RADARTUBAN — Warna merah muda atau pink saat ini identik dengan perempuan di banyak negara.
Warna tersebut kerap digunakan pada pakaian, mainan, hingga berbagai produk yang ditujukan untuk perempuan. Namun, anggapan itu ternyata bukan tradisi yang sudah ada sejak dahulu.
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa hubungan antara warna pink dan perempuan baru menguat pada pertengahan abad ke-20.
Sebelumnya, pemilihan warna pakaian berdasarkan jenis kelamin masih sangat beragam dan belum memiliki aturan yang baku.
Pada awal abad ke-20, beberapa toko dan katalog busana bahkan menyarankan warna biru untuk anak perempuan.
Warna tersebut dianggap lembut dan anggun, sementara penggunaan warna pink maupun biru untuk anak laki-laki dan perempuan masih berbeda-beda di setiap daerah.
Baca Juga: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan Kejagung, Digiring ke Mobil Tahanan Tanpa Rompi Pink
Dikutip dari kanal YouTube Vox, kondisi tersebut terlihat dari survei yang dilakukan majalah Time pada 1927 terhadap sejumlah toko busana di Amerika Serikat.
Pada 1927, majalah Time melakukan survei ke berbagai toko besar di Amerika Serikat. Hasilnya sangat beragam dan tidak menunjukkan kesepakatan yang jelas. Bahkan, ada katalog tahun 1918 yang menyarankan anak perempuan mengenakan warna biru karena dianggap lembut dan anggun.
Perubahan besar mulai terlihat setelah Perang Dunia II. Salah satu momen yang paling sering disebut adalah pelantikan Presiden Amerika Serikat Dwight Eisenhower pada 1953.
Saat itu, Ibu Negara Mamie Eisenhower tampil mengenakan gaun pesta berwarna pink yang mencuri perhatian publik. Penampilannya menjadi sangat menonjol karena masyarakat baru saja melewati masa perang yang identik dengan warna pakaian yang lebih gelap dan sederhana.
Kecintaan Mamie Eisenhower terhadap warna merah muda kemudian menjadi tren nasional. Media dan industri mode mulai mempopulerkan warna tersebut hingga muncul istilah "Mamie Pink".
Menurut penjelasan dalam video Vox, peristiwa itu menjadi salah satu faktor yang memperkuat hubungan warna pink dengan citra perempuan dalam budaya populer.
"Baru setelah perang, warna pink memperoleh asosiasi simbolis seperti yang kita kenal sekarang. Mamie Eisenhower sangat menyukai warna pink dan dikenal karena hal itu. Pada akhirnya, banyak orang mengikuti tren tersebut hingga pink dianggap sebagai warna yang identik dengan perempuan," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, makna warna pink terus berubah. Jika dahulu sering dikaitkan dengan kelembutan dan peran tradisional perempuan, kini warna tersebut juga digunakan untuk menunjukkan kepercayaan diri, ketegasan, hingga semangat kesetaraan.
Baca Juga: Alasan Kenapa Warna Pink Dianggap Simbol Feminin, Meski Harusnya Warna itu Netral
Sejumlah figur publik perempuan turut memanfaatkan warna pink sebagai bagian dari identitas mereka.
Mulai dari pembalap mobil Donna Mae Mims hingga tokoh politik Hillary Clinton yang beberapa kali tampil mengenakan busana berwarna merah muda dalam berbagai kesempatan.
Perjalanan warna pink menunjukkan bahwa makna sebuah warna tidak selalu bersifat tetap.
Apa yang kini dianggap identik dengan satu kelompok tertentu ternyata dapat berubah seiring perkembangan budaya, tren, dan dinamika masyarakat dari masa ke masa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni