RADARTUBAN — Dunia tengah menghadapi ancaman fenomena iklim yang disebut-sebut sebagai salah satu El Niño terkuat dalam sejarah modern.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan ekstrem di Samudra Pasifik berpotensi memicu cuaca yang lebih ganas, memperparah krisis pangan, hingga menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala triliunan dolar di berbagai negara.
Fenomena tersebut dijuluki "Godzilla El Niño", istilah informal yang digunakan untuk menggambarkan peristiwa El Niño dengan intensitas luar biasa.
Sejumlah pengamatan terbaru menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis telah mencapai tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya dan bahkan masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Secara sederhana, El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik yang terjadi secara alami setiap dua hingga tujuh tahun sekali.
Baca Juga: Ancaman El Nino Mulai Mengintai Kesehatan, Ini Kelompok Rentan dan Cara Mengatasinya
Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Asia dan Australia, sementara air dingin dari dasar laut naik ke permukaan di sepanjang pantai Amerika Selatan.
Namun saat El Niño terjadi, angin tersebut melemah sehingga air hangat bergerak ke arah timur.
Pergeseran ini mengubah pola tekanan udara dan sirkulasi atmosfer global yang kemudian memengaruhi cuaca di berbagai belahan dunia.
Dikutip dari kanal YouTube AsapSCIENCE, kreator Mitchell Moffit menjelaskan bahwa perhatian besar terhadap El Niño kali ini muncul karena suhu yang tercatat telah melampaui rekor sebelumnya.
"El Niño pada dasarnya hanyalah pola pemanasan lautan di Samudra Pasifik. Alasan El Niño ini mendapat begitu banyak perhatian adalah karena baru saja memecahkan rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat oleh fenomena tersebut, dan kita masih berbulan-bulan lagi dari potensi puncaknya," ujarnya.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa anomali suhu telah mencapai sekitar 3,08 derajat Celsius di atas rata-rata dan diperkirakan masih dapat meningkat mendekati 4 derajat Celsius.
Jika proyeksi tersebut terjadi, peristiwa ini berpotensi menjadi salah satu El Niño terkuat yang pernah diamati manusia.
Dampaknya diperkirakan akan terasa berbeda di setiap wilayah. Sejumlah negara di Amerika Selatan dan sebagian wilayah Amerika Utara berpotensi mengalami curah hujan yang jauh lebih tinggi dari biasanya, meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Sebaliknya, kawasan seperti Indonesia, Australia, dan sebagian Afrika selatan berisiko menghadapi kekeringan, gelombang panas, serta peningkatan ancaman kebakaran hutan.
El Niño juga diketahui dapat mengganggu sektor perikanan karena perubahan suhu laut memengaruhi persebaran ikan dan rantai makanan laut.
Baca Juga: Tuban Dua Bulan Tanpa Hujan, El Nino Sangat Kuat Mengintai hingga 2027
Selain dampak lingkungan, konsekuensi ekonomi yang ditimbulkan juga tidak kecil. Penelitian yang dikutip AsapSCIENCE menyebut El Niño rata-rata dapat menyebabkan kerugian ekonomi global sekitar 3,4 triliun dolar AS dalam lima tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.
Beberapa proyeksi bahkan memperkirakan fenomena kali ini dapat mendorong puluhan juta orang ke dalam kondisi rawan pangan akibat gangguan produksi pertanian dan cuaca ekstrem yang berkepanjangan.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa El Niño bukanlah produk langsung dari perubahan iklim. Fenomena ini telah terjadi secara alami selama ribuan tahun.
"Penting untuk dicatat bahwa El Niño bukanlah produk dari perubahan iklim, ini terjadi secara alami. Namun ini adalah lapisan di atas bumi yang sudah mengalami rekor suhu tinggi. Ini hampir seperti steroid yang ditambahkan ke pemanasan akibat perubahan iklim," jelas Moffit.
Penelitian terbaru menunjukkan pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia dapat memperkuat dampak El Niño ketika fenomena tersebut muncul.
Akibatnya, gelombang panas, kekeringan, banjir, dan gangguan terhadap ketahanan pangan berpotensi menjadi lebih parah dibandingkan peristiwa serupa pada masa lalu.
Kemunculan "Godzilla El Niño" menjadi pengingat bahwa perubahan kecil pada suhu laut dapat memengaruhi kehidupan miliaran orang di seluruh dunia.
Dengan dunia yang kini sudah lebih hangat dibandingkan beberapa dekade lalu, setiap fenomena iklim ekstrem berpotensi membawa dampak yang lebih besar terhadap cuaca, ekonomi, dan ketahanan pangan global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni