Trump Bentuk Super Intelligence Force, AS Bidik Dominasi Teknologi AI

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 14:48 WIB
Presiden AS, Donald Trump. (Instagram/realdonaldtrump)
Presiden AS, Donald Trump. (Instagram/realdonaldtrump)

RADARTUBAN – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membentuk gugus tugas baru bernama Super Intelligence Force untuk memperkuat posisi Negeri Paman Sam sebagai pemimpin dunia dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Gugus tugas tersebut dibentuk untuk mengoordinasikan berbagai upaya pemerintah federal dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin pesat.

Trump menunjuk Direktur Intelijen Nasional AS Jay Clayton untuk memimpin tim tersebut.

Baca Juga: Minta Dana Tambahan, Menhan AS Tuding Senator Kena Trump Derangement Syndrome 

Trump menyebut, Super Intelligence Force akan menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memastikan Amerika Serikat tetap berada di garis depan perkembangan teknologi yang dinilai memiliki dampak besar terhadap masa depan.

"Super Intelligence Force ditugaskan untuk mengoordinasikan upaya Pemerintah Federal guna memastikan Amerika terus memimpin dunia dalam bidang Kecerdasan Super," tulis Trump sebagaimana dikutip JawaPos.com.

Pembentukan tim tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian pemerintahan Trump terhadap perkembangan AI.

Sebelumnya, Trump juga telah mengumumkan rencana pembentukan "AI Force" serta mendorong perubahan pendekatan pemerintah terhadap teknologi tersebut.

Jay Clayton Pimpin Gugus Tugas AI

Dalam menjalankan tugasnya, Super Intelligence Force akan melibatkan sejumlah pejabat penting pemerintahan AS.

Selain Jay Clayton, Trump menunjuk Ketua Federal Trade Commission (FTC) Andrew Ferguson, pejabat Departemen Pertahanan yang menangani penelitian dan rekayasa Emil Michael, serta Direktur Office of Personnel Management (OPM) Scott Kupor.

Trump juga menginginkan gugus tugas tersebut melibatkan berbagai kelompok di luar pemerintahan.

Konsumen, kelompok kepentingan publik, organisasi keagamaan, penyedia infrastruktur penting, hingga perusahaan yang bergerak dalam pengembangan teknologi superintelligence akan dilibatkan.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas mengenai perkembangan teknologi AI sekaligus dampaknya terhadap masyarakat.

Tugas awal Super Intelligence Force adalah menyusun laporan yang membahas risiko dan peluang dari perkembangan AI.

Laporan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 120 hari.

Trump menegaskan, gugus tugas tersebut akan bertanggung jawab langsung kepada dirinya dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.

AS Ingin Tetap di Garis Depan Persaingan AI

Pembentukan Super Intelligence Force dilakukan di tengah semakin sengitnya persaingan pengembangan teknologi AI.

Pemerintah AS berupaya memastikan perkembangan teknologi tersebut tetap memberikan keuntungan strategis bagi negara.

Dalam kebijakan terbarunya, pemerintahan Trump bahkan menggunakan istilah "Super Intelligence" sebagai pengganti "Artificial Intelligence" dalam komunikasi resmi pemerintah.

Gedung Putih menyebut istilah tersebut lebih menggambarkan kemampuan teknologi yang terus berkembang.

Gugus tugas baru itu nantinya diharapkan menghasilkan rekomendasi mengenai peran pemerintah federal dalam perkembangan AI.

Rekomendasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah selanjutnya dalam menghadapi peluang sekaligus risiko teknologi tersebut.

Langkah Trump juga muncul setelah sejumlah pimpinan perusahaan teknologi mulai menyerukan perlunya mempertimbangkan kembali perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, pemerintah AS kini menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara mendorong inovasi dan mengantisipasi potensi risiko.

Dengan pembentukan Super Intelligence Force, Trump memperlihatkan bahwa pengembangan AI tidak hanya dipandang sebagai isu teknologi.

Tetapi juga bagian dari strategi Amerika Serikat untuk mempertahankan daya saing dan kepemimpinan global. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Super Intelligence Force AI kecerdasan buatan Amerika Serikat donald trump