RADARTUBAN - Pemerintah Amerika Serikat secara mengejutkan melakukan langkah intervensi pasar mata uang dengan menjual cadangan euro miliknya demi memborong mata uang Yen Jepang.
Kebijakan rahasia yang terungkap akibat dokumen kerja yang tidak sengaja terfoto media ini dilakukan guna menahan penurunan drastis nilai tukar yen, sekaligus melindungi perekonomian dan stabilitas keuangan pasar domestik Amerika Serikat.
Perekonomian Jepang belakangan mengalami tekanan hebat setelah nilai tukar yen anjlok hingga menyentuh kisaran 163–164 per dolar AS, rekor terendah dalam empat dekade terakhir.
Penurunan tajam ini dipicu oleh pelebaran jurang suku bunga antara Bank Sentral AS (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ), serta lonjakan harga komoditas impor energi akibat konflik global.
Baca Juga: Pelatih Qatar Sebut Jepang Favorit, tapi Timnas Indonesia Bikin Grup Piala Asia Makin Panas
Kondisi tersebut menempatkan AS pada risiko krisis beruntun jika Jepang melakukan tindakan darurat berupa penjualan masif obligasi AS (US Treasury) yang dipegang sebagai cadangan devisa.
"Soalnya ya tadi, kalau sampai Jepang menjual obligasi Amerika, wah itu efeknya ke ekonomi Amerika bakal jauh lebih ngeri," ujar dikutip dari Youtube Sepulang Sekolah.
Apabila Jepang melepaskan obligasi AS dalam jumlah besar untuk menyerap kembali yen, pasokan obligasi di pasar akan melimpah dan menekan harganya turun.
Penurunan harga obligasi ini secara otomatis melonjakkan imbal hasil (yield), yang kemudian memicu efek domino berupa kenaikan suku bunga pinjaman di AS, mulai dari KPR, kartu kredit, hingga beban utang pemerintah.
Selain ancaman stabilitas pasar keuangan, pelemahan nilai yen yang terlampau dalam dinilai memukul daya saing produk ekspor manufaktur AS.
Dolar yang terlalu kuat menjadikan produk ekspor buatan pabrik AS terasa jauh lebih mahal bagi konsumen mancanegara.
"Kalau ini dibiarkan, barang Amrik bakal enggak laku dan ini berlawanan banget sama agenda reindustrialisasi pabrik-pabrik di Amerika makanya Amerika butuh nilai yen buat sedikit lebih kuat biar barang-barang made in USA tetap bisa bersaing," tambahnya.
Meski langkah koordinasi pemborongan yen sempat mendorong mata uang Jepang menguat ke angka 155 per dolar AS, para pengamat menilai intervensi moneter tersebut sifatnya hanya sementara.
Selama selisih suku bunga mendasar antara kedua negara belum berimbang, tekanan pelemahan nilai tukar yen berpotensi kembali terjadi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni