"Cacar air bisa menetap, daya tubuh turun bisa (herpes) zoster atau bisa cacar air kembali. Jadi, cacar air itu tidak serta merta sekali seumur hidup," kata dokter spesialis anak Anggraini Alam dalam sebuah acara daring, Selasa (3/10), sebagaimana dikutip dari Antara.
Herpes zoster merupakan suatu penyakit akibat reaktivasi dan manifestasi penyakit cacar air. Anggraini menerangkan, penyakit akibat infeksi virus ini ditandai dengan timbulnya lenting atau lepuhan berisi air di sekujur tubuh.
Penyakit kulit yang menular ini, kata dia, tidak hanya terjadi pada anak-anak.
Tidak sedikit orang dewasa yang terjangkiti. Terutama yang daya tahan tubuhnya lemah.
Mengapa penyakit cacar air bisa muncul kembali pada manusia yang pernah mengidapnya?
Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu menerangkan, seseorang yang pernah terkena cacar air, virus penyebabnya bernama varicella zoster tidak mati dan sirna. Virus tersebut masih menetap atau dorman dalam sel neuronal.
Anggraini menyebut umumnya herpes zoster diawali dengan gejala awal yang cukup bervariasi. Seperti demam dengan suhu bervariasi, rasa lemah atau lesu, disertai rasa tak nyaman, pegal, dan nyeri pada area yang akan mengalami erupsi kulit.
"Herpes zoster yakni suatu penyakit karena varicella-nya bersembunyi dulu di sumsum tulang keluar lagi di kemudian hari, nyerinya bukan main. Kalau varicella zoster terjadi di daerah muka maka ini rambut kita bisa hilang, kalau di daerah mata bisa alami kebutaan," tutur Anggraini.
Karena itu, agar tak menjadi herpes, kata dia, orang-orang perlu mendapatkan vaksin cacar air. Merujuk ekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak usia satu tahun bisa diberikan dua dosis vaksin berselang enam bulan.
"Kami memandang perlu pemberian pencegah (yakni vaksin) karena risiko akan lebih tinggi apabila terkena infeksi dengan segala komplikasi tidak hanya sekarang, selanjutnya tidak ingin terjadi herpes zoster," kata Anggraini.
Dia mengatakan, pemberian vaksin cacar air tidak terbukti meningkatkan risiko autisme seperti yang dikhawatirkan sejumlah orang.(ds)
Editor : Kifani Amalija Putri