Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penderita Komorbid dan Lansia Rentan Terdampak Cuaca Panas, Pakar: Batasi Aktivitas di Luar Ruang 

Dwi Setiyawan • Minggu, 8 Oktober 2023 | 13:00 WIB
Pakar kesehatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban (Fakultas Kedokteran UI)
Pakar kesehatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban (Fakultas Kedokteran UI)

RADARTUBAN - Penderita komorbid, bayi dan anak-anak, lansia, hingga atlet yang berlatih di luar ruang lebih rentan terkena dampak buruk cuaca panas ekstrem daripada masyarakat umum.

 

Peringatan tersebut disampaikan pakar kesehatan Zubairi Djoerban.

 

"Kalau udara panas 40 derajat Celcius, hampir semua orang kesehatannya akan terpengaruh, akan menurun. Namun, yang banyak terdampak ada beberapa kelompok, misalnya usia lanjut, penderita komorbid, bayi dan anak kecil, orang-orang miskin yang kerjaan sehari-harinya di tempat terbuka, serta atlet," kata Zubairi, sebagaimana dikutip dari Antara. 

 

Anggota Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) itu juga menyebut salah satu dampak buruk cuaca panas ekstrem adalah dehidrasi hingga yang paling serius adalah serangan heat stroke atau kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis.

 

Zubairi juga mengingatkan untuk tidak mengesamping cuaca panas ekstrem seperti gelombang panas. 

 

Itu cuaca tersebut dapat berakibat pada kematian, sebagaimana terjadi di beberapa negara.

 

"Ini saya sampaikan data angka kematian. Di Amerika itu, setiap tahun lebih dari 1.200 orang meninggal akibat gelombang panas. Pada 2022, yang meninggal akibat gelombang panas 1.714 orang," paparnya. 

 

Sementara itu, Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama menambahkan, dampak buruk cuaca panas ekstrem terhadap kesehatan tubuh manusia terbagi dalam tiga kategori; ringan, sedang, dan berat.

 

"Dampak ringan dan sedang, seperti berkeringat, sakit kepala dan pusing, keram otot, kehausan sampai dehidrasi. Dampak beratnya gangguan kesadaran sampai heat stroke," terangnya. 

 

Untuk mencegah terkena dampak heat stroke di tengah cuaca panas terik yang melanda Indonesia saat ini, dia mengungkapkan sejumlah gejala yang patut diwaspadai masyarakat.

 

Di antaranya, keringat berlebihan, wajah yang tampak pucat, mual, muntah, kaki kram, sakit kepala dan pusing, merasa sangat lelah, tidak bisa berkonsentrasi, dan kulit terasa panas, kemerahan, serta kering.

 

Tjandra mengingatkan masyarakat untuk menerapkan semboyan stay cool, stay hydrated, and stay informed, karena masyarakat perlu tetap menjaga tubuh tetap dingin dengan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Tak kalah pentingnya, melakukan aktivitas fisik secara bertahap, mengenakan baju berwarna cerah dan berbahan ringan, serta menggunakan tabir surya dengan kandungan SPF minimal SPF-30.

 

‘’Masyarakat juga perlu tetap terhidrasi dengan banyak mengonsumsi air putih serta tetap mengikuti informasi terkini seputar cuaca panas dan langkah pencegahan terhadap dampak buruknya untuk kesehatan,’’ ujarnya.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#cuaca panas esktrem #Komorbid #Zubairi Djoerban #lansia