RADARTUBAN - Ridduwan Agung Asmaka, adalah salah seorang yang mengalami disleksia. Namun, gangguan itu baru dia sadari ketiga dewasa.
Agung—sapaan akrabnya—mengaku, ketika kecil hingga remaja bicaranya sering berantakan, susah mengingat nama orang dan tempat, dan seringkali lupa tentang apa yang akan diucapkan.
Awalnya dia menganggap hal itu sebagai hal yang biasa.
‘’Saya baru menyadari setelah ada teman psikolog yang memberi tahu bahwa saya terdapat ciri-ciri disleksia,’’ terang Agung.
Pria usia 28 tahun itu mengaku bahwa untuk mengatasi hal yang sulit seperti membaca dan menulis, dia perlu untuk mengatur strategi.
Lulusan IKIP PGRI Bojonegoro itu menyampaikan, jika dirinya merasa kesulitan dalam mengerjakan sesuatu, maka dia hanya bisa kerjakan semampunya.
Lebih lanjut, pelaku pantomime dengan disleksia itu menyampaikan, seseorang dengan disleksia tidak perlu merasa rendah diri.
Mereka harus semangat dan mencari cara belajar yang paling baik bagi dirinya.
‘’Untuk seseorang dengan tanda-tanda disleksia juga harus segera ke psikolog, dokter spesialis anak, atau neurologis agar dapat segera dites dan mengerti penanganannya,’’ katanya.
Nashirul Umam, salah satu orang tua yang anaknya mengalami disleksia turut berbagi pengalaman.
Menurutnya, anak yang mengalami disleksia bisa diatasi, asal tidak terlambat.
‘’Saya bersyukur karena memiliki pengalaman terkait itu (disleksia, Red). Banyak teman psikolog juga, sehingga sedikit banyak terkait tumbuh kembang anak. Dan ternyata anak saya mengalami disleksia,’’ katanya.
Disampaikan Irul, awalnya memang tidak begitu memperhatikan akan adanya gelagat gejala disleksia pada anaknya.
Namun, ketika mulai belajar membaca, menulis, dan menghitung, ternyata si anak cukup kesulitan.
‘’Katanya hurufnya kebalik-balik, tidak beraturan,’’ tuturnya mengungkapkan yang disampaikan anaknya.
Dari situ, akhirnya melakukan konsultasi ke psikiater. Diketahui, anaknya mengalami gangguan kebahasaan: kesulitan membaca, menulis, dan menghitung.
‘’Akhirnya saya putuskan untuk melakukan terapi secara rutin. Dan setelah berjalan lebih kurang dua tahun, sekarang sudah bisa calistung,’’ ungkapnya.
Disinggung hal tersulit memiliki anak disleksia, diungkapkan Irul, hal tersulit dan terberat adalah justifikasi dari seseorang yang tidak paham.
Menurutnya, anak yang mengalami disleksia itu bukan berarti bodoh. Namun, masih banyak sekali orang yang tidak tahu dan tidak paham.
Termasuk guru. Tidak semuanya paham. Akibatnya, mudah sekali memberikan justifikasi.
‘’Ini (justifikasi, Red) yang bahaya. Tidak paham tapi memberikan justifikasi,’’ tegasnya.
Atas pengalaman yang sudah dialami, Irul berpesan, setiap orang tua harus tahu dan paham tumbuh kembang anak.
Dan ketika anak mengalami disleksia, maka segera mungkin melakukan konsultasi, sehingga proses terapi bisa dilakukan sejak dini. (sel/tok)
Editor : Amin Fauzie