Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tak Hanya Manula, Anak-Anak dan Remaja Bisa Derita Osteoporosis. Pakar BRIN Menjelasan Potensinya

Dwi Setiyawan • Kamis, 26 Oktober 2023 | 15:45 WIB

 

Photo
Photo

RADARTUBAN- Pengeroposan tulang atau osteoporosis tidak hanya berpotensi diderita fase manusia berusia lanjut (manula). Ternyata anak-anak dan remaja pun bisa menderitanya.

 

Fakta tersebut dibeberkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). "Ada osteoporosis yang disebut Juvenile Osteoporosis atau osteoporosis pada anak dan remaja, bisa terjadi pada anak usia 8-14 tahun," kata Kepala Pusat Riset (Kapusris) Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN Harimat Hendarwan, sebagaimana dikutip dari Antara.

Harimat mengatakan, terdapat dua jenis penyakit osteoporosis, yakni osteoporosis primer dan sekunder.

Dia menerangkan, osteoporosis primer umumnya terjadi akibat seiring proses penuaan pada manusia. Sedangkan osteoporosis sekunder terjadi karena kondisi klinis lain.

Menurut Harimat, osteoporosis pada anak dan remaja umumnya termasuk kategori osteoporosis sekunder. Penyebabnya karena penyakit Juvenile Osteoporosis pada usia pertumbuhan anak, kondisi kesehatan tertentu, dan obat-obatan.

Dia mencontohkan kondisi medis seperti anorexia nervosa (gangguan makan yang ditandai dengan berat badan yang sangat rendah dan ketakutan berlebihan kenaikan berat badan), penyakit ginjal, kesulitan menyerap nutrisi makanan (sindrom malabsorpsi), hyperthyroidism, dan penggunaan obat glukokortikoid.

 

Harimat mengungkapkan beberapa faktor risiko osteoporosis, antara lain, gaya hidup kurang sehat dan kurangnya asupan vitamin. "Merokok, kurang olahraga, konsumsi alkohol, kafein berlebihan, serta kurang kalsium dan vitamin pun merupakan bagian dari faktor risiko osteoporosis," kata dia. 

Kemenkes mencatat prevalensi osteopenia (kepadatan tulang yang rendah) di Indonesia sekitar 41,7 persen. Sedangkan prevalensi osteoporosis sekitar 10,3 persen.

 

Data Kemenkes juga menunjukkan bahwa 41,2 persen sampel berusia kurang dari 55 tahun mengalami osteopenia. Kebanyakan penyakit tersebut diderita perempuan.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#anorexia nervosa #BRIN #Osteoporosis pada anak #Kemenkes #osteoporosis